BIO-ORGANIC SOIL TREATMENT UNTUK KELAPA SAWIT


Pupuk Bio-Organic Soil Treatment ini adalah pupuk organik yang terbuat dari bahan organik dan bahan alam yang sudah diperkenalkan di dunia sejak dejak decade 80-an. Pengolahan pupuk ini menggunakan Bio-Triba, sehingga bersifat mengembalikan daya dukung tanah (soil regenerator) dan berdasarkan konsep memperbaiki tanah dan kemudian tanah memberikan makanan kepada tanaman.

Pupuk Bio-Organic Soil Treatment terbuat dari humus, peat surface bog, tepung fosil, protein alami dan mikroba multi strain (Bio-Triba). Sehingga Pupuk Organic Soil Treatment bukan hanya sekedar pupuk organik biasa, tetapi lebih dari hanya dari sekedar soil conditioner.

Penggunaan pupuk ini memberikan manfat lebih karena , pupuk ini tidak beracun, dapat dipergunakan dalam setiap musim, memberikan keseimbangan pada pH tanah, memperbaiki sifat fisik tanah, dan memberikan kehidupan tanah kembali melalui asupan mikroorganisme, humus dan protein.

Pupuk Bio-Organic Soil Treatment berfungsi meningkatkan kemampuan tanah untuk penyerap hara dan air, sehingga mengurangi terjadinya leaching, pnguapan dan proses penjerapan. Aktivitas mikroba membantu terbentuknya enzim/hormon yang akan merangsang pertumbuhan akar tanaman. Aktivitas mikroba juga dapat membantu menguraikan unsur-unsur hara yang terikat kuat/terjerap, serta secara langsung (non-simbiotik) mampu mengambil N dari udara bebas.

Penggunaan Pupuk Organic soil treatment pada pembibitan utama kelapa sawit menunjukan bahwa penggunaan dosis 50 gram/polibag + 25% pupuk standard umum memberikan pengaruh lebih baik terhadap pertumbuhan bibit, hal ini terlihat dari pembesaran diameter batang, tinggi tanaman, serta penggunaan OST dapat menekan biaya pemupukan mencapai 50% dibandingkan dengan biaya umum bila digunakan baku pemupukan (Bulletin Pusat Penelitian perkebunan Marihat, Vol 11 – No. 1, 1991).

Hal ini juga pernah dilaporkan oleh PT. Salim Indoplantation pada tahun 1993, menyimpulkan bahwa penggunaan Organic Soil Treatment pada pembibitan Utama memberikan hasil pertumbuhan bibit yang tidak kalah dengan penggunaan pupuk baku dan dapat mengurangi dosis pupuk baku sebesar 50%.

Sementara penggunaan Organic Soil Treatment pada tanaman belum menghasilkan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, pada tahun 1993-1995 melaporkan bahwa penggunaan pupuk OST 500 gram/tanaman/tahun yang dikombinasikan dengan pupuk stadndar 50% memberikan hasil pertumbuhan tanaman lebih baik dari pemupukan standar untuk Luas permukaan daun dan pertambahan jumlah pelepah.

Penggunaan OST pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan oleh Incasi Raya Group pada tahun 1997 memberikan hasil bahwa penggunaan OST dengan dosis 900 gram/pohon/selama di TBM ditambah 50% pupuk standard lebih baik dibandingkan dengan penggunaan 100% pupuk umum, dan memberikan penghematan biaya pemupukan sebesar 33.20%.

Penggunaan Organic Soil Treatment dengan dosis 250-500 gram/pohon pada tanaman kelapa sawit menghasilkan yang dikombinasikan dengan pupuk standar 50% menghasilkan produksi tanaman meningkat 35-57% dan dapat menghemat biaya pemupukan hingga 23,65-40,00% .

Penggunaan diSP2 Bio-Organic Soil Treatment (BIOST) Plasma PT. Sari Lembah Subur UKUI, Desa Banjar Panjang pada tahun 2004 produksi meningkat 12.70%-22.50% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi dari 651-953 Ton meningkat menjadi 734-1.058 Ton/Tahun.

Penggunaan BioOrganic Soil Treatment (BIOST) dari tahun 2003 sampai dengan 2005 memberikan peningkatan produksi yang signifikan di Plasma SP1 kebun Duta Surya Pratama, Kalimantan Barat dari produksi sekitar 650-750 Ton/bulan di Tahun 2003 menjadi 1200-1300 Ton/bulan di tahun 2005.

Penggunaan Bioorganic Soil Treatment (BIOST ) dilaporkan dapat mengurangi masa trek pada tanaman sawit dan karet.

Penggunaan Organic Soil Treatment dapat juga digunakan untuk tanaman padi, kentang, cabe, coklat, kopi, karet dan lainnya.

Spesisikasi Pupuk Bio-organic Soil Treatment mengandungan C-Organik 12-20%, N-Total 1.2-2.3%, P2O5-Total 2,0-3,0%; K2O 1,5-2,2%; MgO 0,8 – 1,2%; CaO 4,0 – 5,0% dan mengandung unsuremikro seperti Boron, Fe, Zn, Mn dan Cu.

Pupuk Bio-Organic Soil Treatment ini mengandung mikroba : Azotobacter, sp., Aspergillus, sp., Bacillus, sp., Tricoderma dan lain-lain.

Dosis Penggunaan Pupuk Bio Organic Soil Treatment (BIOST) adalah :

Pembibitan Utama :
75-100 gram/polibag, Pupuk BIOST diberikan pada awal penanaman bibit.

Tanaman Belum Menghasilkan :
TBM 1 dosis 150-250 gram/pohon/thn
TBM 2 dosis 250-400 gram/pohon/thn
TBM 3 dosis 400-600 gram/pohon/thn

Tanaman Menghasilkan :
TM < 7 Thn dosis 500 – 1000 gram/phn/thn
TM > 7 Thn dosis 600 – 1200 gram/phn/thn

(Bio-triba Rp. 25.000/liter; Organo-triba atau kompos organik Rp. 1.250/kg, stok trsedia)

MENGATASI LAYU BAKTERI TANAMAN JAHE DENGAN ORGANO-TRIBA

Organisme Pengganggu Tanaman yang utama menyerang pertanaman jahe, dan menyebabkan kerugian besar adalah penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Gejala serangan penyakit layu pada tanaman jahe di lapangan adalah daun menguning, kemudian menggulung. Sedangkan pada rimpang ditandai dengan gejala keriput dan bau busuk yang menyengat.

Untuk mencegah penyakit ini maka bibit diambil dari tanaman induk sehat. Kemudian tanaman diberikan kompos organo-triba untuk meningkatkan daya tahap jahe terhadap penyakit layu tersebut. Serta pemberian pestisida nabati (tepung gambir dan temulawak) jika tanaman jahe sudah terserang penyakit. Pemberian organo-triba akan menciptakan resistensi tanaman terhadap penyakit serta dapat meningkatkan keseburan.


Tanaman jahe yang terkena penyakit layu bakteri

PUPUK ORGANIK TERBUKTI EFEKTIF MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN


Pupuk organik bio-triba efektif meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman. Bahkan jauh lebih baik dari perlakukan lainnya seperti pemberian kompos atau pupuk kandang.

Penggunaan bio-triba berdampak nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, dan panjang akar pada bibit tanaman. Serta dapat mengefisiensikan penggunaan pupuk anorganik (NPK).

Hal tersebut dibuktikan dari hasil penelitian Tatang Sutarjo, Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, pada bibit cengkeh.

Dengan perlakuan Biotriba+Media Tanam+ NPK pada bibit cengkeh, hanya dalam waktu 8 minggu, tinggi tanaman mencapai 7,11 cm. Sedangkan bibit yang hanya diberikan pupuk kandang +Media Tanaman+ NPK tingginya hanya 5,04 cm.

Tanaman cengkeh yang diberikan perlakukan bio-triba (Biotriba+Media Tanam+ NPK), jumlah daun bisa mencapai 9 helai hanya dalam 8 minggu. Sedangkan dengan pemberian pupuk kandang (pupuk kandang +Media Tanaman+ NPK) jumlah daun hanya 6 helai.

Pemberian bio-triba juga berpengaruh terhadap luas daun. Luas daun dengan perlakuan biotriba dapat mencapai luas 9,28 cm2. Sedangkan pemberian pupuk kandang luas daun hanya 7,00 cm2.

Dengan pemberian bio-triba panjang akar bibit cengkeh dapat mencapai 14,46 cm dalam waktu 8 minggu. Dengan pemberian pupuk kandang panjang akar hanya 7,44 cm.

Dari hasil ini terbukti bahwa pemberian bio-triba berdampak pada peningkatan pertambahan tinggi, jumlah daun, luas daun dan panjang akar bibit tanaman cengkeh.Namun bio-triba tidak hanya efektif digunakan untuk tanaman cengkeh melainkan bisa juga digunakan untuk tanaman lainnya seperti tanaman hias, buah-buahan.

Khususnya hobis tanaman hias yang ingin bibit tanaman hiasnya segera tumbuh besar, memiliki daun lebat dan lebar layak menggunakan bio-triba sebagai penganti pupuk kompos. Sehingga bibit tanaman hias berukuran kecil seperti “Gelombang Cinta” yang terkenal mahal, yang bisa mencapai Rp. 70.000/bibit yang tingginya 1 cm, dengan pemberian Biotriba dapat tumbuh lebih cepat sehingga nilai jualnya menjadi lebih mahal.

Pada dasarnya bio-triba merupakan pupuk organik hasil dekomposisi atau penguraian sampah pasar, seperti halnya pupuk kompos. Namun bio-triba telah diperkaya dengan mikroorganisme untuk meningkatan kemampuannya mempercepat pertumbuhan tanaman. Sehingga seperti hal kompos maupun pupuk kandang, bio-triba dapat digunakan untuk setiap jenis tanaman.

Cara terbaik memanfaatkan bio-triba adalah dengan mencampurkannya dengan tanah mengikuti perbandingan 1 : 3. Dimasukkan ke dalam polibag setelah dicampur merata,. Kemudian ditambahkan 2,5 g NPK (16:15:15) setelah bibit ditanam dalam polibag.

Referensi:
Tatang Sutarjo, Teknik Pelaksanaan Percobaan Kombinasi Dosis Pupuk Organik dan Pupuk NPK (15:15:15) Pada Bibit Cengkeh, Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 2006

PAKET BELAJAR BIO-FOB DAN ORGANO -TRIBA (OTODIDAK)

Bagi Anda yang sudah membaca tulisan-tulisan (pada blog ini) tentang manfaat dan bukti-bukti keunggulan teknologi Bio-Fob dan Organo Triba, maka tidak ada salahnya untuk mencoba. Anda dapat melakukannya sendiri dan kami akan membantu dengan menyediakan Paket Belajar Bio-Fob dan Paket Belajar Membuat Kompos Organo-Triba masing-masing seharga Rp. 120.000,-

PAKET BELAJAR MEMBUAT BIBIT BIO-FOB (PAKET 1)
Bio Fob WC
Buku Panduan Belajar

Harga Rp. 120.000,-

PAKET BELAJAR MEMBUAT KOMPOS ORGANO-TRIBA (PAKET 2)
Bio-Triba (1 liter)
Buku Panduan Belajar
Organo Triba (Kompos 1 kg)

Harga Rp. 120.000,-


Cara pemesanan sama seperti pemesanan produk kami lainnya.

PENERAPAN TEKNOLOGI BIO-FOB PADA TANAMAN KEDELAI


Perkembangan dan perubahan pemintaan akan komoditi kedelai akhir-akhir ini cukup membuat pemerintah kelabakan. Harga kedelai yang semakin melonjak naik di pasar membuat para pengusaha tahu dan tempe yang bahan bakunya adalah kedelai terancam bangkrut dan gulung tikar.

Para pengusaha ini menuntut pemerintah, khususnya departemen perdagangan dan pertanian agar menstabilkan harga kedelai di pasaran agar usaha mereka dapat bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat (golongan menengah-bawah). Departemen pertanian harus meningkatkan produksi kedelai nasional dalam waktu yang singkat. Langkah-langkah yang dapat diambil adalah dengan cara perluasan lahan (ekstensifikasi) dan peningkatan produksi (intensifikasi). Untuk meningkatkan produksi dalam satuan luas maka diperlukan teknologi yang canggih, tepat guna dan ramah lingkungan.

Dalam menjawab tantangan tersebut, salah satu alternatif adalah menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dengan menggunakan pupuk organik (cair, kompos dan pupuk kandang). Kita (CV.Meori Agro) telah melakukan percobaan pada beberapa varietas tanaman kedelai dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan paket teknologi Bio-Fob (Bio-Fob, Bio-Triba dan Organo-Triba).

Aplikasi teknologi ini pada tanaman kedelai sangat mudah sekali yaitu dengan menggunakan Organo-Triba sebagai pupuk (diberikan pada waktu tanam dengan dosis 2 ton/Ha) dan benih kedelai sebelum ditanam direndam dengan Bio-Fob cair selama 15 menit dan ditaburi dengan Bio-Fob powder secukupnya (sampai semua benih kedelai tertutupi).

Teknologi Bio-Fob ini mengandung mikro organisme yang berperan untuk membuat tanaman tahan terhadap penyakit (bersifat vaksin dan bio-pestisida), memperbaiki kesuburan tanah, merangsang pertumbuhan tanaman (bio-fertiliser) dan meningkatkan hasil produksi pertanian. Pengguanaan teknologi Bio-Fob juga dapat mengurangi pemakaian pupuk kimia sebesar 25%-50% dari anjuran pemakaian biasa. Hasil yang kita dapat di lapangan sangat luar biasa dan setiap varietas kedelai memiliki potensi produksi yang berbeda-beda. Data potensi produksi kedelai yang kita dapat dari lapangan adalah sebagai berikut:

Potensi Produksi Kedelai dalam 1 Ha:
1) Varietas Burangrang
Burangrang:hasil rata-rata dalam 10 pohon antara 130 gr-150 gr (1 pohon 13 gr-15 gr). Dalam 1 ha terdapat populasi kedelai sebanyak: 225.000 lubang tanam x 2 = 450.000 tanaman kedelai. Jadi Potensi Produksi kedelai dalam 1 Ha: 450.000 x ( 13 gr-15 gr) = 5.850 kg-6.750 kg.

2) Varietas Anjosmoro
Anjosmoro : hasil rata-rata dalam 10 pohon antara 120-140 gr (1 pohon 12 gr-14 gr). Dalam 1 ha terdapat populasi kedelai sebanyak: 225.000 lubang tanam x 2 = 450.000 tanaman kedelai. Jadi Potensi Produksi kedelai dalam 1 Ha: 450.000 x (12 gr-14 gr) =5.400 kg-6300 kg

3) Varietas Kaba
Kaba : hasil rata-rata dalam 10 pohon adalah 110 gr -120 gr(1 pohon 110gr-120 gr). Dalam 1 ha terdapat populasi kedelai sebanyak: 225.000 lubang tanam x 2 = 450.000 tanaman kedelai. Jadi Potensi Produksi kedelai dalam 1 Ha:450.000 x 110 gr-120 gr) =4.950 kg-5.400 kg

Semoga teknologi Bio-Fob yang kita tawarkan ini dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dan dapat membantu masyarakat petani yang ingin bergerak dalam budidaya tanaman kedelai. Untuk mencapai potensi produksi tersebut, kita harus mengoptimalkan semua aspek yang terkait dengan budidaya pertanian (pengairan, penyinaran, curah hujan, pengendalian hama dan penyakit, penggunaan teknologi, pemilihan lahan, pemilihan waktu tanam dll) serta waktu pemanenan dan cara panen juga harus tepat.

Untuk pemanenan dianjurkan batang kedelai dipotong dengan sabit atau alat lainnya sehinnga tanah tidak terbawa ke tempat pengeringan kedelai.

BIO-TRIBA DAN MITOL 20E EFEKTIF MENGATASI JAMUR AKAR


(1) Kedaan tajuk tanaman yg terinfeksi jamur akar sebelum perlakuan. Pertumbuhan tanaman terhambat, daun kaku kekuningan, tidak menghasilkan bunga atau kurang sekali.

(2) Keadaan tajuk tanaman 2 tahun setelah diberi perlakuan Mitol 20Edan Kompos yg diproses dengan Bio-TRIBA (B. pantotkenticus, T.lactae) Pertumbuhan tanaman normal, daun hijau mengkilat dan menghasilkan bungan cukup banyak.

IMUNISASI BIBIT PANILI MENYELAMATKAN PRODUKSI


Tanaman panili perlu imunisasi? Bila ingin berhasil dalam produksi, cara ini layak dilakukan. Bahan imunisasinya telah tersedia.

Salah satu kendala dalam membudidayakan panili adalah gangguan penyakit busuk pangkal batang panili (BPP) yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporus sp. vanillae (Fov). Penyakit ini terutamanya menular melalui stek yang digunakan sebagai sumber bahan tanaman. Oleh sebab itu, menggunakan bibit yang bebas Fov merupakan kunci pengendalian penyakit.

Saat ini Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (dan tentunya juga melalui CV. Meori Agro, red) berhasil mengembangkan bibit panili yang telah diimunisasi. Selain menjadi bebas Fov, bibit yang telah diimunisasi tahan terhadap penyakit BBP. Bibit panili menjadi tahan terhadap penyakit BBP setelah diimunisasi dengan F. oxysporum non-patogenetik asal tanaman panili sehat (FoNP). FoNP adalah jamur yang tidak bersifat patogen pada tanaman dan apabila diinokulasi pada tanaman panili menyebabkan sifat ketahanan dalam panili menjadi aktif sehingga infeksi Fov bisa digagalkan. Hal ini mirip dengan bayi yang diimunisasi supaya tahan terhadap penyakit. FoNP merupakan jamur asli Indonesia yang diperoleh dari suatu proses seleksi sehingga didapatkan galur yang efektif.

Formula FoNP Galur F10A-M dan Aplikasinya
Untuk memudahkan pemakaian di lapang, galur F10A-M dibuat dalam bentuk formulasi siap pakau. Ada tiga jenis produk formulasi, yaitu:
1.BIO-FOB, produk berbentuk tepung, mengandung 106 spora FoNP pada setiap ml formula
2.BIO-FOB EC, produk berbentuk cair, mengadung 105 - 106 spora FoNP setiap ml formula
3.Organo -FOB, produk berbentuk seperti kompos, mengadung 105 - 106 spora FoNP setiap gram formula.

Dalam bentuk formula, FoNP dapat bertahan hidup selama 1 tahun, bahkan pada formula Organik-FOB jumlah cenderung bertambah.

Cara untuk memperoleh stek batang yang bebas patogen BBP adalah sebagai berikut:
1.Stek batang sampai 2-5 ruas dipilih dari tanaman yang tidak menunjukkan gejala BBP.
2.Stek dicelupkan dalam BIO-FOB EC selama 30 – 60 menit
3.Stek kemudian ditanam pada tanah yang telah dicampur dengan Organik-FOB atau BIO-FOB WP.
4.Setelah bibit berumur 3 bulan siap ditanam di lapang.

Bibit yang telah diimunisasi dengan FoNP akan mengandung FoNP dalam jaringan tanamannya tanpa menimbulkan gejalan kelainan, kecuali tanaman cenderung tumbuh lebih subur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoNP ditemukan dalam jaringan tanaman setelah 6 bulan imunisasi.

Keunggulan Komperatif FoNP
FoNP dapat berkembang dan bertahan hidup dalam jaringan tanaman, sehingga dapat berfungsi optimal dengan mikroba lain. Ia tidak memiliki struktur istirahat yang disebut klamidospora. Bentuk istirahat ini dapat bertahan hidup lama di alam dalam kondisi ekstrim. FoNP melindungan tanaman dengan 3 cara, yakni 1) dapat berkompetisi dalam hal nutrisi dengan patogen, 2) melindungi bagian tanaman yang luka sehingga patogen sulit masuk, dan 3) mengaktifkan sistem ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen.

FoNP memiliki potensi untuk mengendalikan penyakit Fusarium pada tanaman tomat dan pisang. Sebagai agen hayati, FoNP dapat diandalkan untuk mengendalikan penyakit akibat Fusarium, dan merupakan komponen potensial dalam mengembangkan usaha tani organik (sumber: Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol. 24 No. 3, 2002) .