Tampilkan postingan dengan label biotriba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biotriba. Tampilkan semua postingan
TEKNIK PRODUKSI KOMPOS. Bio-TRIBA BT1
Bio-TRIBA BT1 adalah formula bentuk cair mengandung spora Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae, masing-masing dengan kepadatan populasi ±106cfu/ml dan ±104cfu/ml Kedua jenis mikrooganisme ini secara simultan menguraikan bahan organik menjadi nutrisi yang dapat digunakan langsung oleh tanaman Produk ini merupakan formula ramah lingkungan, dan dirancang khusus untuk mengolah limbah organik dan telah didaftar hak patennya pada Ditjen HAKI.
Manfaat
- Mengolah dan mengurai limbah organik menjadi kompos yang bermutu sehingga hara dapat digunakan tanaman secara sempurna. (Bio-dekomposer)
- Membantu mengurangi serangan patogen penting pada tanaman (Bio-Pestisida)
- Bacillus dan Trichoderma menghasilkan antibiotik yang dapat menghancurkan jamur patogenik dalam limbah organik Bio-pestisida)
- Bacillus dan Trichoderma dapat menghasilkan hormon dan enzim untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman (Biofertiliser).
- Ramah lingkungan dan aman terhadap manusia. (Eco frendly)
Keunggulan
- Formula ini mengandung mikroorganisme indogeneus yang terseleksi dari alam.
- Dalam proses pelapukan/penguraian bahan organik mikroba ini menghasilkan beberapa senyawa berupa antibiotic, enzim dan hormon yang dapat merangsang produksi dan pertumbuhan tanaman.
- B. pantotkenticus dan T. lactae juga dapat membantu menghambat perkembangan patogen tanah seperti Fusarium oxysporum Phytopthora, Pythium, Rhizoctonia solani, Sclretioum, Rigidoporus lignosus dll.
- Pupuk organik/kompos yang dihasilkan mempunyai beberpa keunggulan antara lain : (a) mengandung nutrisi lengkap (b) mengandung senyawa antibiotik bagi patogen, (3) mengandung hormone tumbuh bagi pertumbuhan (4) mengandung mikroorganisme berguna seperti Bacillus, Trichoderma, P. flourescens dan Penicilium.
BioTRIBA BT2 TERBUKTI MENINGKATKAN UNSUR HARA DALAM TANAH

Pupuk Hayati BioTRIBA BT2 merupakan salah satu formula yang di kemas khusus untuk mengatasi beberapa kendala dalam budidaya tanamn. Salah satunya adalah kemampuan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman. Telah dilakukan pengujian kemampuan pupuk hayati BioTRIBA BT2 oleh Dep. Agronomi dan Hortikultura IPB, Bogor untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah .
Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa pupuk hayati BioTRIBA BT2 dapat meningkat unsur hara dalam tanah. Unsur hara N yang pada awal sebelum aplikasi sebesar .4 %, di akhir pengujian meningkat menjadi 0.41-0.54. Unsur K meningkat dari 0.37 % menjadi sekitar 0.36-0.71 %, Unsur P meningkat dari 13.3% menjadi sekitar 13.6-18.0%.
Demikian juga dengan unsur Ca meningkat dari 8.21 meq/100g menjadi sekitar 8.03-9.32 meq/100g, unsur Mg meningkat dari 3.26 meq/100g menjadi sekitar 3.21-4.27 meq/100g. KTK meningkat dari 28.15 meq/100g menjadi sekitar 29.33-33.00 meq/100g.
Hal ini menunjukkan pupuk hayati Bio-TRIBA (BT-02) layak digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanaman Anda.
MEMBUAT KOMPOS DARI BAHAN SEKAM
PUPUK BIO-TRIBA EFEKTIF MENINGKATKAN HASIL PAKCHOY

Penggunaan Bio-Triba ternyata cukup efektif meningkatkan hasil dari tanaman sayuran. Hal ini terbukti Hasil analisis uji efektivitas pupuk hayati Bio-TRIBA. Pemberian pupuk hayati merek bio-TRIBA pada pakchoy menghasilkan peningkatan produksi tanaman.
Dari pengujian di lapangan tanaman tanpa pemupukan hanya menghasilkan 11066.7 kg per ha, sedangkan tanaman dengan pemupukan menunjukkan kisaran hasil 12666.7 kg per ha). Namun dengan perlakuan 0.5 dosis NPK + 1 dosis pupuk hayati Bio-TRIBA, diperoleh hasil tertinggi 15333.3 kg per hektar.
Pupuk hayati Bio-TRIBA dapat digunakan atau ditambahkan pada perlakuan pemupukan NPK standart terhadap tanaman pakchoy. Selanjutnya, pupuk hayati Bio-TRIBA dapat menggantikan pupuk NPK hingga setengah dosis dengan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemupukan 1 dosis NPK standart.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa organisme atau mikroba dalam pupuk hayati tersebut dapat membantu ketersediaan hara ataupun meningkatkan serapan unsur hara sehingga tanaman dapat tumbuh lebih baik. Bakteri pelarut phosfat dan Bacillus pantotkenticus yang terkandung dalam pupuk hayati Bio-TRIBA dapat menambat N dan melarutkan P sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Bakteri pelarut phosfat mampu melarutkan P dari bentuk tidak larut sehingga tersedia bagi tanaman (Atlas dan Bortha, 1998).
Bakteri tersebut juga mampu menghasilkan hormon-hormon tumbuh seperti auksin, giberelin, maupun kinetin yang merangsang pertumbuhan akar rambut sehingga meningkatkan serapan hara tanaman (Pattern dan Glick, 2005). Peran bakteri tersebut menyebabkan tanaman mampu menyerap hara lebih banyak sehingga pertumbuhan dan hasilnya lebih baik. Hal tersebut menyebabkan tanaman dapat tumbuh lebih baik dan membentuk klorofil lebih banyak.
Peran pupuk hayati Bio-TRIBA pada peningkatan hasil menunjukkan pengaruh mikroba yang mampu meningkatkan ketersediaan hara tanaman sehingga terjadi perbaikan metabolisme tanaman karena unsur hara tercukupi. Hasil/petak yang meningkat pada perlakuan 1 dosis pupuk hayati Bio-TRIBA + 0.5 dosis pupuk NPK dapat secara langsung karena asimilasi menjadi meningkat.
Dari peubah hasil, dapat diketahui bahwa peningkatan terjadi pada perlakuan pupuk hayati Bio-TRIBA yang diaplikasikan dengan pupuk NPK serta perlakuan tanpa pupuk NPK. Hal tersebut menunjukkan bahwa pupuk hayati Bio-TRIBA yang diaplikasikan secara sendiri dapat mencukupi kebutuhan akan subtrat untuk perbanyakan mikroba sehingga terdapat cukup banyak populasi mikroorganisme untuk menambat N, melarutkan P atau menghasilkan hormon-hormon tumbuh bagi tanaman tanpa tambahan pupuk anorganik NPK.
PERKENALKAN: PUPUK HAYATI BioTRIBA (BT2) NEW GENERATION

Kami memperkenalkan produk baru kami, yakni BT 2 (Bio Triba) generasi terbaru. Produk ini merupakan penyempurnaan dari yang sudah ada. Tentu ini layak Anda coba, khususnya bagi peminat pertanian organic.
BioTRIBA BT2, generasi baru adalah pupuk hayati yang mengandung 5 macam species mikroorganisme PGPM (Plant Growth-Promoting Micrrooganism) dan indegenius (asli Indonesia) terseleksi dan telah diuji keandalannya baik di laborotarium dan lapang melalui penelitian selama bertahun-tahun.
Mikroba yang terkandung dalam formula BioTRIBA BT2 secara senergi dapat menyediakan unsur hara terutama N, P dan hormone pemacu tumbuh.
Disamping itu mikroba sellulotik dapat mengurai bahan oganik sehingga menjamin ketersediaan unsur hara mikro yang sangat diperlukan tanaman dalam proses metabolism serta menghasil senyawa antibiotik yang dapat mengendalikan patogen penyakit dalam tanah.
Kedasyatan BioTRIBA BT2
Nitrogen (N2) cukup tersedia di udara (± 70%) tetapi tidak dapat dimanfaatkan oleh tanam Namun dengan bantuan BioTRIBA BT2, Nitrogen (N2) diudara di fiksasi menjadi NH3, sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman.
Ketersediaan P dalam tanah sangat rendah karena karena terikat oleh mineral tanah. BioTRIBA mengandung bakteri pelarut P yang telah teruji, meningkatkan asam organik, meningkatkan ketersediaan P dan efisiensi penggunaan pupuk fospat (P).
Disamping itu, pemberiaan BioTRIBA BT2 sebagai pupuk hayati akan meningkatkan populasi mikroorganisme pelarut P dan penambat N, akan meningkatkan produktivitas tanaman, sehingga pemupukan akan lebih murah dan efisien. BioTRIBA BT2 mengandung mikroorganisme yang memproduksi senyawa antibiotic yang dapat mengendalikan patogen penyakit dan menginduksi ketahanan tanaman.
Dari aplikasi di lapangan terbukti BioTRIBA dapat menghemat penggunaan pupuk kimia 25% - 50% dan ramah lingkungan. BioTRIBA dapat mengendalikan patogen penyakit dan meningkatkan kesehatan tanaman dan kwaltas roduksi. Serta menghasilkan hormone tumbuh yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Disamping itu penggunaan BioTRIBA BT2 dapat memproleh pupuk N gratis dari udara dan P didalam tanah. Dan BioTRIBA dapat digunakan untuk tanaman perkebunan, pangan dan hortikltura.
Cara Penggunaan
Pada Persiapan tanam BioTRIBA BT2 dapat disemprotkan pada lahan atau pada lubang tanam 3 – 4 liter/Ha, dengan kosentrasi 10 ml/l, 4 – 7 hari sebelum tanam. Untuk Pembibitan BioTRIBA BT2 disemprotkan/disiramkan pada media tanaman dalam polybag dengan dosis 10 – 20 ml/L sebelum penanaman. Kemudian aplikasi pupuk hayati BioTRIBA BT2 sebulan sekali.
Untuk pertanaman dilapangan aplikasi dlakukan dengan cara menyemprot pangkal batang tanaman dengan dosis 3 – 4 liter/ha dengan kosentrasi 10 ml/l. Dapat diulangi setiap 1 bulan untuk tanaman semusim dan 3 – 4 bulan untuk tanaman tahunan (Cengkeh karet,kakao dan sawit).
BioTRIBA dapat di kombinasikan pupuk kimia dengan pemberian 10 – 20 ml/l yaitu 4 – 7 hari setelah aplikasi pupuk kimia untuk memudahkan tanaman menyerap hara yang diberikan. Dianjurkan agar dosis penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi secara bertahap mulai dari 25% dari dosis anjuran.
PAKAI BIO-TRIBA, PADI LEBIH SUBUR, HEMAT PUPUK DAN PRODUKSI TINGGI
Penggunaan bio-triba pada padi memberikan hasil yang luar biasa . Bapak H. Endang membuktikan hal tersebut. Petani asal Karawang tersebut mengaplikasikan Bio-Triba pada pertanam di atas 2 lahannya masing-masing seluas 2 dan 2,5 ha. Dan hasilnya cukup mengembirakan.
Ia coba menggunakan Bio-TRIBA dengan cara disempot. Ia tetap menggunakan NPK dan Urea seluruhnya namun hanya sebanyak 2 kuintal .
Dan hasilnya cukup mengembirakan. Ia mendapati anakan menjadi lebih banyak sekitar 30 anakan. Sedangkan jika tanpa perlakuan (Bio-TRIBA) , sekitar 20 anakan.
Pada pertanaman tidak dijumpai adanya serangan hama tikus. Berbeda ketika ia melakukan penanaman tanpa perlakuan.
Gambar. Tanaman Padi yang Tumbuh Subur dengan Aplikasi Bio-TRIBA
Tanaman terlihat lebih tinggi, rapat dan kekar / tidak rebah. Dan hasil panen sementara dengan luas 5 m x 5 m adalah 31 kg basah atau diperkirakan bisa mencapai 12,400 ton gabah basah/ha.
Hal ini sungguh mengejutkan baginya. Berdasarkan pengakuannya baru kali ini ia melihat sebuah manfaat luar biasa dari penggunaan formula tambahan selain pupuk.
Namun yang sungguhnya mengherankan, bagaimana penggunaan Bio-TRIBA bisa mengurangi penggunaan pupuk namun hasil produksinya bisa lebih tinggi. JIka tanpa perlakuan ia membutuhkan pupuk NPK dan urea sebanyak 3 kuintal. Tentu ini adalah salah satu keunggulan formula yang mengandung mikroorganisme tersebut.
Oleh sebab itu pengalaman Bapak H. Endang membuktikan Bio-TRIBA secara handal bisa diaplikasikan pada tanaman padi. Selain bisa menghemat pupuk, mempercepat pertumbuhan juga dapat meningkatkan produksi.
Ia coba menggunakan Bio-TRIBA dengan cara disempot. Ia tetap menggunakan NPK dan Urea seluruhnya namun hanya sebanyak 2 kuintal .
Dan hasilnya cukup mengembirakan. Ia mendapati anakan menjadi lebih banyak sekitar 30 anakan. Sedangkan jika tanpa perlakuan (Bio-TRIBA) , sekitar 20 anakan.
Pada pertanaman tidak dijumpai adanya serangan hama tikus. Berbeda ketika ia melakukan penanaman tanpa perlakuan.
Gambar. Tanaman Padi yang Tumbuh Subur dengan Aplikasi Bio-TRIBATanaman terlihat lebih tinggi, rapat dan kekar / tidak rebah. Dan hasil panen sementara dengan luas 5 m x 5 m adalah 31 kg basah atau diperkirakan bisa mencapai 12,400 ton gabah basah/ha.
Hal ini sungguh mengejutkan baginya. Berdasarkan pengakuannya baru kali ini ia melihat sebuah manfaat luar biasa dari penggunaan formula tambahan selain pupuk.
Namun yang sungguhnya mengherankan, bagaimana penggunaan Bio-TRIBA bisa mengurangi penggunaan pupuk namun hasil produksinya bisa lebih tinggi. JIka tanpa perlakuan ia membutuhkan pupuk NPK dan urea sebanyak 3 kuintal. Tentu ini adalah salah satu keunggulan formula yang mengandung mikroorganisme tersebut.
Oleh sebab itu pengalaman Bapak H. Endang membuktikan Bio-TRIBA secara handal bisa diaplikasikan pada tanaman padi. Selain bisa menghemat pupuk, mempercepat pertumbuhan juga dapat meningkatkan produksi.
Pengalaman Pengguna Tentang Daya Hasil Bio-TRIBA
Kami menerima sebuah testimoni dari pengguna bio-TRIBA pada lada perdu.
Melalui surat ini saya ingin menyampaikan bahwabeberapa waktu yang lalu pada saat saya mengikuti On The Job Training tentang perbanyakan lada perdu, untuk media pembibitan diberikan materi pembuatan pupuk Bio-TRIBA. Setelah saya praktekkan dan amati hasilnya ternyata memberikan dampak positif terhadap bibit lada perdu, karena terbebas dari serangan jamur.
Pesan ini disampaikan oleh Bapak Bambang Budianto, di Balai Latihan Kerja Pertanian Klampok, Banjarnegar
Melalui surat ini saya ingin menyampaikan bahwabeberapa waktu yang lalu pada saat saya mengikuti On The Job Training tentang perbanyakan lada perdu, untuk media pembibitan diberikan materi pembuatan pupuk Bio-TRIBA. Setelah saya praktekkan dan amati hasilnya ternyata memberikan dampak positif terhadap bibit lada perdu, karena terbebas dari serangan jamur.
Pesan ini disampaikan oleh Bapak Bambang Budianto, di Balai Latihan Kerja Pertanian Klampok, Banjarnegar
PROTOKOL APLIKASI BioTRIBA PADA TANAMAN SAWIT

Bio-triba terbukti terbukti efektif meningkatkan pertambahan tunas serta ketahanan terhadap penyakit pada pembibitan sawit. Serta dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sawit dan produktivitas sawit pada pertanaman. Bio-triba meningkatkan antibodi tanaman terhadap penyakit serta meningkatkan efektivitas tanaman dalam penyerapan hara.
Aplikasi Bio-triba pada Pembibitan
1. Rendam biji sawit sebelum dikecambahkan dalam larutan BioTRIBA selama 5 – 10 menit dengan konsentrasi 20% ( 20 ml/l)
2. Untuk mencegah timbulnya penyakit pada bibit maka Lahan untuk pesemaian disiram dengan BioTRIBA dengan konsentrasi 10% (10 ml/l)
3. Untuk pemeliharan dalam polibag dianjurkan menggunakan kompos (bisa kompos cangkang sawit, dll) yang telah dicampur dengan BioTRIBA dengan dosis 0,5 - 1 kg/polibag setiap 4 bulan. (1 TON KOMPOS + 3 BioTRIBA konsentrasi 10 – 50 ml/l)
Penggunaan Bio-triba pada Pertanaman
Untuk membantu optimalisasi penyerapan hara maka dianjurkan aplikasi Bio~TRIBA pada pada pangkal batang setiap 6 bulan sekali dan dilaksanakan 1 bulan setelah pemupukan dengan konsentrasi 10% (10ml/l)
Untuk membantu stabilizasi hara dan mikroorganisme bermanfaat dalam rizosfera/perakaran tanaman, dianjurkan agar dibantu dengan pemberiaan kompos (bisa kompos cangkang sawit, dll) yang telah dicampur dengan Bio~TRIBA dengan dosis 2 – 3 kg/tanaman/tahun
PROTOKOL APLIKASI BioTRIBA PADA TANAMAN SAWIT

Penggunaan bio-triba pada tanaman sawit bermanfaat meningkatkan efektivitas penyerapan hara serta ketahanan hama. Adapun penggunaan bio-triba pada pembibitan dan pertanaman sawit adalah sebagai berikut:
Pembibitan
Rendam biji sawit sebelum dikecambahkan dalam larutan BioTRIBA selama 5 – 10 menit dengan konsentrasi 20% ( 20 ml/l)
Untuk mencegah timbulnya penyakit pada bibit maka Lahan untuk pesemaian disiram dengan BioTRIBA dengan konsentrasi 10% (10 ml/l)
Untuk pemeliharan dalam polibag dianjurkan menggunakan kompos (bisa kompos cangkang sawit, dll) yang telah dicampur dengan BioTRIBA dengan dosis 0,5 - 1 kg/polibag setiap 4 bulan. (1 TON KOMPOS + 3 BioTRIBA konsentrasi 10 – 50 ml/l)
Pertanaman
Untuk membantu optimalisasi penyerapan hara maka dianjurkan aplikasi Bio~TRIBA pada pada pangkal batang setiap 6 bulan sekali dan dilaksanakan 1 bulan setelah pemupukan dengan konsentrasi 10% (10ml/l)
Untuk membantu stabilizasi hara dan mikroorganisme bermanfaat dalam rizosfera/perakaran tanaman, dianjurkan agar dibantu dengan pemberiaan kompos (bisa kompos cangkang sawit, dll) yang telah dicampur dengan Bio~TRIBA dengan dosis 2 – 3 kg/tanaman/tahun
APLIKASI BIO-TRIBA PADA TANAMAN BUNGA-BUNGAAN
SUKSES BESAR APLIKASI BIO-TRIBA DI NTT
Dr. Ir. Mesak Tombe, melalui rekayasa Biotriba berhasil menaikkan produktivitas hasil panen. Pada Jagung, tanpa kompos dan tanpa Biotriba, produksinya 2,28 ton per ha. Dengan kompos namun tanpa Biotriba, produksinya 5,04 ton per ha. Namun dengan kompos dan Biotriba, produksinya menjadi 5,58 ton per ha. Pada Bawang Merah, tanpa kompos dan Biotriba, produksinya 14,83 ton per ha. Dengan kompos dan tanpa Biotriba, produksinya 21,14 ton per ha. Namun dengan kompos dan Biotriba, produksinya 23,97 ton per ha. Pada Petsai, tanpa kompos dan Biotriba, produksinya 3,42 ton per ha. Dengan kompos dan tanpa Biotriba, produksinya 8,79 ton per ha. Sedangkan dengan kompos dan Biotriba, produksinya menjadi 12,29 ton per ha (dikutip dari Kabar NTT).
BIO-TRIBA MEMBANTU MENGOLAH LIMBAH MENJADI KOMPOS

Larutan Bio-Triba merupakan suatu formula yang mengandung dua jenis mikroorganisme, yaitu Bacillus panteketkus strain J2 dan Trichoderma lactae strain TB1. Kedua jenis mikroorganisme tersebut berfungsi sebagai aktivator dalam proses dekomposisi limbah pasar, rumah tangga, hewan dan pertanian menjadi pupuk orgnik yang bermutu. Di samping itu, kedua jenis mikroorganisme tersebut dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogenik pada tanaman yang bersifat tular tanah (soil-borne pathogen)
Kualitas kompos yang dihasilkan sangat tergantung pada jenis limbah (sampah) yang digunakan sebagai bahan dasar. Seringkali limbah mengandung bahan yang sulit diurai seperti lignin. Untuk itu perlu ditambah dengan mikroorganisme yang dapat mengurai lignin secara cepat. Kandungan karbon dan nitrogen (C/N) dari limbah yang paling baik adalah kurang dari 30:1.
Pengolahan limbah menjadi kompos dimulai dengan menyortir/memisahkan bagian yang tidak dapat lapuk seperti kaca, besi, kaleng dan plastik. Selanjutnya limbah dipotong-potong menggunakan mesin pencacah dan hasil cacahan disusun berlapis (25 -30 cm) di dalam wadah penampungan. Pada setiap lapis tumpukan limbah disiram secara merata dengan larutan Bio-TRIBA. Setiap ton limbah yang telah disortir memerlukan 2 liter laruta Bio-TRIBA. Wadah penampungan diputar selama 30 menit setiap 2 hari untuk meratakan penyebaraan mikroorganisme.
Selama proses penguraian akan terjadi peningkatan suhu dan suhu ini sebaiknya diukur setiap hari. Penguraian dianggap selesai apabila suhu telah turun lagi mencapai sekitar 350C atau memakan waktu 14 -21 hari. Bahan kemudian dikeluarkan dari wadah pengomposan dan ditumpuk dengan plastik untuk proses pematangan. Kompos yang telah matang ditandai dengan kondisi suhu yang berkisar antara 28-300C . Selanjutnya bahan dikering-anginkan dan dihaluskan (dapat menggunakan mesin pemotong). Bahan yang belum lapuk sempurna dipisahkan dengan diayak dan disaring. Hasil pengayakan berupa kompos Bio-TRIBA yang siap dipakai dan dipasarkan. Secara skematis, proses pembuatan kompos dengan bantuan larutan Bio-TRIBA.
Kompos yang dihasilkan melalui proses ini mempunyai nilai nisbah C/N berkisar 10-15, pH 6,5 – 8 atau bersifat alkalis sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kemasaman tanah. Pada kompos juga tidak ditemukan patogen penyebab penyakit pada tanaman. Kompos mengandung unsur hara K, S, Ca, Mg dan hara Mikro (Fe, Mn. Cu, Zn) serta nisbah C/N yang lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang yang biasa digunakan petani.
Potensi Penggunaan Kompos
Sebagai Pengendali Patogen atau Fungsida Nabati
Kompos yang berasal dari limbah pasar, pertanian dan hewan yang ternyata mengandung senyawa yang bersifat toksik terhadap patogen tanaman. Dengan demikian, kompos jenis tanaman ini dapat berperan sebagai fungisida nabati dan membuka peluang baru dalam mengembangkan agribisnis.
Hasil penelitian dengan menggunakan ekstrak kompos membuktikan bahwa bahan tanam tersebut dapat berfungsi sebagai fungsisida nabati. Ekstrak kompos diperoleh dengan mencampur 1 kg kompos dengan 16 liter air kemudian difermentasi secara 14 hari. Pengujian terhadap beberapa jamur patogenik (R. Lignosus, S. Roffsii, C. Gloeosporioides dan F. Oxyporum) mengindikasikan bahwa ekstrak kompos pada konsentrasi 5 -15 % dapat menghambat pertumbuhan jamur patogen.
Sebagai Substrak Agen Hayati
Di samping manfaat utama kompos sebagai sumber nutrisi, kompos juga berpedan dalam pengendalian penyakit tanaman jika kompos mengandung mikrooganisme yang berfungsi sebagai biogen seperti Trichoderma, F. oxysporus non patogenik (FoNP), dan Bacillus. Bakteri B. Subtilis yang ditambahkan pada bahan yang dikomposkan dapat mengendalikan penyakit akar gada pada kubis.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa Trichoderma, FoNP, dan Bacillus dapat tumbuh dan berkembang dalam kompos. Hal itu dibuktikan dengan adanya peningkatan populasi kedua mikrooganisme tersebut.
Pemanfaan Kompos Bio-TRIBA pada Tanaman
Kompos Bio-TRIBA dapat menggantikan peran pupuk kandang, dengan kesetaraan menurut jenis tanamannya, yaitu: a) tanaman jagung, 1 kg pupuk kandang setara dengan 0,5 kg kompos Bio-TRIBA, b) Tanaman bawang, cabai dan tomat, 1 kg pupuk kandang setara dengan 0,25 kg kompos Bio-TRIBA, c) Tanaman petsai/caisin, 10,8 kg pupuk kandang setara dengan 3,6 kg kompos Bio-TRIBA
Hasil percobaan menggunakan kompos Bio-TRIBA pada jagung yang ditanam pada tanah Podzolik dan Andosol mengindikasikan bahwa: a) Pada jenis tanah Podzolik, kompas Bio-TRIBA dapat mengurangi pupuk pabrik ¼ takaran anjuran untuk pertumbuhan tanaman (makanan ternak) dan ½ takaran anjuran untuk produksi, b) Pada jenis tanah Andosol, kompos Bio-TRIBA dapat menggantikan seluruh takaran pupuk anorganik, namun hasil jagung akan lebih tinggi bila ditambahkan pupuk anorganik ¼ takaran untuk pertumbuhan tanaman dan ¾ takaran anjuran untuk meningkatan hasil
Pemanfaatan Urine Ternak Domba dengan Bio TRIBA
Tidak hanya dimanfaatkan kotoran padatnya saja untuk bahan baku pembuatan kompos, kotoran cair yang dihasilkan oleh ternak Domba Garut pun ternyata bermanfaat untuk sumber nutrisi organik bagi tanaman yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Terimakasih kepada saudara Chrismantoro selaku Manajer Perkebunan Eka Agro Rama – Villa Domba yang telah berkenan membantu penulis untuk menginformasikan pada para pembaca Blog sekalian mengenai cara pemanfaatannya. Namun sebelum itu maka akan lebih baik bila para pembaca sekalian mengetahui terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan Teknologi Bio Triba: Formula bentuk cair mengandung B. pantotkenticus strain J2 dan T. lactae strain TB1. Biodekomposer limbah organik (pasar, r. tangga, hewan dan pertanian, 1 ton dari 2 – 3lt Biotriba. Ekstrak kompos yang dihasilkan bersifat fungisidal terhadap beberapa patogen tanah. Biofungisida dapat dicampur langsung dengan pupuk organik atau kompos untuk pengendalian penyakit, 1ton dari 2-3lt, diaduk, inkubasi selama 1-2 minggu.
Cara Pemanfaatan Urine Domba dengan Teknologi Bio TRIBA:
Persiapkan terlebih dahulu tempat penampungan Urine Domba seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut ini. Urine Domba mengalir dari Kandang Panggung di atasnya.
Setelah tempat penampungan Urine Domba terisi penuh maka pindahkan Urine Domba ke dalam Drum berkapasitas 200 liter. Urine Domba di tempat penampungan dapat terisi penuh sesuai kapasitas Drum 200 liter di Villa Domba kurang lebih selama 1 minggu dari populasi Domba sebanyak 100 ekor. Pada Drum yang terisi penuh Urine Domba dapat dicampurkan pula dengan Kotoran Ternak Padat sebanyak 5 s.d 10 Kg.
Teknologi Bio Triba sebanyak 0,25 liter untuk kemudian diencerkan dengan 10 liter air. Di mana hasil pengencerannya untuk kemudian dimasukkan ke dalam Drum yang telah berisikan Urine Domba sebanyak 200 liter.
Aduklah Urine Domba dalam Drum hingga menyatu dengan teknologi Bio TRIBA yang sudah diencerkan. Setelah dirasakan tercampur maka tutuplah bagian atas Drum dengan menggunakan Plastik dan akan berlangsung masa inkubasi selama 3 hari.
Selepas 3 hari maka ulangi kembali proses pengadukan Urine Domba dalam Drum serta
Tutuplah Drum dengan Plastik seperti semula setelah Pengadukan. Hal yang sama dilakukan pada hari ke-6 dan terakhir hari-10.
Setelah hari ke-10 maka Urine Domba siap diberikan pada Tanaman sebagai Sumber Nutrisi untuk meningkatkan Kesuburan Tanah dan Produktivitas Tanaman (sumber: vila domba).
Cara Pemanfaatan Urine Domba dengan Teknologi Bio TRIBA:
Persiapkan terlebih dahulu tempat penampungan Urine Domba seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut ini. Urine Domba mengalir dari Kandang Panggung di atasnya.
Setelah tempat penampungan Urine Domba terisi penuh maka pindahkan Urine Domba ke dalam Drum berkapasitas 200 liter. Urine Domba di tempat penampungan dapat terisi penuh sesuai kapasitas Drum 200 liter di Villa Domba kurang lebih selama 1 minggu dari populasi Domba sebanyak 100 ekor. Pada Drum yang terisi penuh Urine Domba dapat dicampurkan pula dengan Kotoran Ternak Padat sebanyak 5 s.d 10 Kg.
Teknologi Bio Triba sebanyak 0,25 liter untuk kemudian diencerkan dengan 10 liter air. Di mana hasil pengencerannya untuk kemudian dimasukkan ke dalam Drum yang telah berisikan Urine Domba sebanyak 200 liter.
Aduklah Urine Domba dalam Drum hingga menyatu dengan teknologi Bio TRIBA yang sudah diencerkan. Setelah dirasakan tercampur maka tutuplah bagian atas Drum dengan menggunakan Plastik dan akan berlangsung masa inkubasi selama 3 hari.
Selepas 3 hari maka ulangi kembali proses pengadukan Urine Domba dalam Drum serta
Tutuplah Drum dengan Plastik seperti semula setelah Pengadukan. Hal yang sama dilakukan pada hari ke-6 dan terakhir hari-10.
Setelah hari ke-10 maka Urine Domba siap diberikan pada Tanaman sebagai Sumber Nutrisi untuk meningkatkan Kesuburan Tanah dan Produktivitas Tanaman (sumber: vila domba).
Langganan:
Postingan (Atom)


