Tampilkan postingan dengan label pertanian organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian organik. Tampilkan semua postingan

TEKNOLOGI Bio-FOB SOLUSI TEPAT UNTUK PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

Teknologi Bio-FOB adalah inovasi baru dalam budidaya pertanian dengan memanfaatkan mikroorganisme dan ekstrak tanaman. Teknologi ini berorientasi organic farming (pertanian organik) dan ramah lingkungan.

Mikroorganisme yang digunakan dalam teknologi Bio-FOB bisa meningkatkan ketahanan, mutu dan produktivitas tanaman. Ada 3 jenis mikroorganisme yang digunakan dalam teknologi Bio-FOB yaitu F. oxysporum non patogenik, Bacillus pantotkenticus ,Trichoderma lactae. Sedangkan ektrak tanaman yang dipakai adalah ekstrak tanaman cengkeh.

Teknologi ini mulai dikaji pada tanaman vanili sejak tahun 1990 dengan mengkoleksi dan mengevaluasi potensi beberapa mikroorganisme yang berguna seperti Fusarium oxysporum non patogenik, Bacillus, Trichoderma, Penicillium dan Pseudomonas flourescens serta ektrak tanaman. Sejak tahun 2001 teknologi ini mulai diluncurkan dan dikembangkan secara luas pada tanaman vanili. Dalam budidaya tanaman vanili dengan teknologi Bio-FOB tersebut tidak lagi menggunakan pupuk anorganik dan pestisida sintetik.

Dalam beberapa kajian menunjukkan teknologi Bio-FOB dapat digunakan pada tanaman lain selain vanili di antaranya; jambu mente, lada, coklat, cabe, padi, sawit, kopi, kedelai dan tanaman sayuran dapat meningkatkan kualitas dan produksinya.

SPESIFIKASI KOMPONEN TEKNOLOGI
1. Bibit Bio-FOB: Bibit Bio-FOB diproduksi dengan menggunakan Fusarium oxysporum non patogenik (Fo.NP). Mikroba ini berfungsi untuk menginduksi sistem ketahanan tanaman serta merangsang perakaran yang diduga menghasilkan hormon pertumbuhan pada perakaran. Fo.NP dapat menginduksi sistem ketahanan tanaman dengan meningkatnya aktivitas beberapa enzim tertentu dalam sistem metabolisme tanaman yaitu: β-1,4 glucosidae, β-1,3-glucanase dan chitinase. Untuk memproduk bibit dalam skala besar telah ada 3 macam formula Fo.NP yaitu; Bio-FOB EC (cair), Bio-FOB WP (Powder), dan Organik-FOB.

2. Bio-TRIBA : Formula dalam bentuk cair ini mengandung dua jenis mikroorganisme yaitu B. pantotkenticus dan T. lactae. Larutan ini dapat digunakan sebagai biodekomposer limbah organik dan biofungisida untuk pengendalian patogen tanaman serta dapat dicampur dengan pupuk organik.

3. Fungisida Nabati Mitol EC : Formula ini mengandung bahan aktif eugenol dan sitral yang diekstrak dari tanaman cengkeh dan sereh wangi. Senyawa eugenol asal cengkeh toksik terhadap beberapa patogen tanaman di antaranya R. lignosus, R. solani, F. oxysporum, F. solani, Pythium S. Rolfsii. (tulisan ini dipublikasikan di Tabloit Sinar Tani edisi Februari 2010)

4. Organo-TRIBA. Kompos organik yang diproses dari limbah organik dengan menggunakan Bio-TRIBA sebagai bio-dekomposer mengandung beberapa mikroorganisme berguna antara lain Bacillus, Trichoderma, P. flourescens dan Penicillium. Ekstrak kompos Organo- TRIBA dapat bersifat pestisidal (dapat berfungsi sebagai pestisida) terhadap beberapa jamur soil borne pathogen.

Sumber: Tabloid Sinar Tani Edisi Feb 2010

TENTANG VANILI ORGANIK

Vanili organik merupakan suatu produk yang dihasilkan dari budidaya pertanian yang dilakukan tanpa aplikasi pupuk ataupun obat-obatan kimia. Di mana nantinya untuk menguji keorganikan produk tersebut maka akan dilakukan pemeriksaan lapangan dan tahap sertifikasi sebagai legalitas keorganikan produk dimaksud.

Produk organik mulai dicari oleh para konsumen seiring adanya kesadaran akan bahaya residu pupuk ataupun obat kimia pertanian bagi kesehatan manusia yang terdapat pada produk konsumsi sehari-hari (Kesehatan). Disamping itu, akibat yang dihasilkan dari penggunaan pupuk ataupun obat kimia secara terus menerus di mana ternyata dapat merusak struktur tanah juga menjadi penyebab mulai beralihnya budidaya pertanian ke arah menghasilkan produk organik (Kelestarian Alam & Lingkungan).

Panili Organik milik Bapak Agus Ramada menggunakan teknologi Bio-Fob

Memang tidaklah mudah untuk beralih ke arah budidaya pertanian secara organik, hal ini khususnya berlaku di suatu lahan pertanian yang awalnya sangat bergantung pada pupuk ataupun obat-obatan kimia. Dampak awal yang akan terasa adalah menurunnya hasil produksi pertanian akibat recovery kerusakan struktur tanah yang telah terjadi sebelumnya. Namun seiring berjalannya waktu maka hasil produksi pertanian akan meningkat kembali.

Kendala Budidaya Vanili Organik
Sebuah jurnal menarik yang berjudul The Natural Vanilla Markets with special attention for the Organic segment menjelaskan bahwa budidaya tanaman Vanili secara organik belum dikembangkan secara optimal pada saat ini. Padahal dalam kenyataannya jenis tanaman berjuluk si Emas Hijau ini tidaklah teramat sulit untuk dibudidayakan secara organik (Tanpa Pupuk & Obat-Obatan Kimia).

Di Indonesia pun adalah belum banyak petani yang mengembangkan tanaman Vanili secara organik. Mereka umumnya masih menggunakan pestisida kimia ketika tanaman mereka terkena serangan ulat ataupun serangga, di mana sebenarnya penggunaan ramuan tanaman sebagai pestisida organik adalah dapat digunakan untuk mengatasi hal ini bilamana petani mau untuk memulainya.

Kerawanan dalam pengembangan budidaya tanaman ini sebenarnya adalah hanya pada penyakit busuk batang yang rentan menyerang tanaman pada usia kurang dari 1,5 tahun. Namun kerawanan ini pun sebenarnya sudah dapat di atasi dengan penanaman bibit yang bersumber dari tanaman bebas penyakit busuk batang dan melakukan budidaya tanaman Vanili secara baik dan benar agar terhindar dari penyakit tersebut. Disamping itu, Teknologi Organik guna mengatasi serangan penyakit busuk batang bisa menggunakan Bio FOB & Bio TRIBA .

Tidaklah mudah dalam memperoleh Bibit Tanaman Vanili yang terbebas dari Penyakit Busuk Batang. Namun sudah semakin mudah cara dalam menangani Kerawanan Penyakit Busuk Batang dengan melakukan Budidaya Tanaman Vanili secara baik dan benar.

Penerapan budidaya tanaman Vanili secara organik dilakukan dengan memanfaatkan Pupuk Organik yang dihasilkan dari Kotoran Domba dengan Teknologi Bio TRIBA sebagai Bio Komposer, hasilnya tidak hanya saja akan menyuburkan tanah dan tanaman akan tetapi meminimalkan resiko berkembangbiaknya bibit jamur penyebab penyakit busuk batang. Semoga Bermanfaat!

Dikutip dari Organic Indonesian Vanilla

TEKNOLOGI BioFOB- Biost BERBASIS SRI (SYSTEM OF RICEINTENSIFICATION) UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI PADI

Upaya meningkatkan produksi padi Indonesia terus dilakukan dalam upaya untuk mencapai swasembada beras. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi laju peningkatan kebutuhan beras yang diperkirakan mencapai 41,5 juta ton atau 65,9 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2025.

Sejak tahun 80-an, teknologi revolusi hijau telah memberikan hasil yang positif dalam peningkatan produksi tanaman padi. Namun demikian, beberapa dekade terakhir, kemajuan teknologi tersebut memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesuburan tanah. Hal ini ditandai dengan penggunaan pupuk kimia yang sudah mencapai tahap leveling off, dimana penambahan pupuk dengan dosis lebih tinggi tidak lagi mampu meningkatkan produktifitas secara nyata. Dampak lain dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia adalah ledakan hama dan penyakit tanaman yang sangat luar biasa sehingga biaya produksi menjadi sangat tinggi.

Dampak negatif penggunaan pupuk kimia secara intensif terlihat jelas pada degradasi bahan organik tanah. Hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa pada sentra produksi padi kandungan bahan organik lahan-lahan sawah sudah berada diambang batas minimum dimana kandungan kurang dari 2%. Hal ini mengakibatkan tingkat efektifitas pemupukan menjadi sangat rendah sehingga dosis rekomendasi pemupukan dari tahun ke tahun semakin tinggi. Sebagai contoh, penggunaan urea saat ini sudah mencapai 400 – 600 Kg/ha sedangkan hasil yang diperoleh tidak lebih dari 6 ton gabah kering panen per hektar.

Upaya meregenerasi dan merevitalisasi tanah sangat perlu dilakukan dengan mengembalikan sumber energi dalam tanah. Salah satu teknologi saat ini yang banyak dikembangkan adalah teknologi HES (High Energy Soil) berbasis SRI (System of Rice Intensification). Teknologi ini menitikberatkan pada upaya pengembalian energi tanah melaluli penambahan bahan organik untuk meningkatkan keanekaragaman hayati sehingga tercipta aliran energi yang cukup untuk proses biokimia dalam tanah. Teknologi BioFOB merupakan salah satu pendekatan dalam meningkatkan keaneka ragaman hayati dengan penambahan bahan organik dan mikroorganisme bermutu yang terseleksi

Teknologi BioFOB-HES (High Energy Soil)
Pengembangan teknologi BioFOB-HES dalam budidaya padi sawah menitikberatkan pada empat komponen utama yaitu penambahan bahan organik, aplikasi pupuk hayati, pengendalian hayati/nabati dan pengelolaan air. Dengan menggunakan teknologi ini maka akan mengefisienkan penggunaan pupuk an organik.

a.Penambahan Bahan Organik
Bahan organic mempunyai peranan sangat penting dalam pemupukan. Tanah yang mengandung bahan organic yang cukup akan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menahan air dan hara sehingga tidak mudah hilang melalui pencucian dan penguapan. Pada kandungan bahan organic kurang dari 2.5 %, proses pencucian hara sangat sulit dikendalikan. sedangkan pada kandungan bahan organic kurang dari 2% kandungan unsur mikro sangat rendah sehingga menggangu pembentukan enzim dalam tanah yang sangat dibutuhkan dalam proses bio kimia. Penurunan bahan organic dari 3 % menjadi 2 % akan menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan unsure nitrogen sebanyak 900 kg/ha.
Penambahan bahan organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan kompos jerami atau bahan organik lainnya. Pengomposan dilakukan dengan menggunakan inokulan berfungsi ganda seperti BioTRIBA yang mengandung inokulan T. lactae dan B. pantotkenticus. Mikroba ini dipilih karena sebagai dekomposer mampu menghasilkan kompos dengan mutu sangat baik dan dapat berfungsi sebagai agensia hayati, biofertilizer dan bioabsorb untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman. Pemberian OrganoTRIBA atau kompos yang telah dirpses dengan BioTRIBA dilakukan sebanyak 150 – 300 Kg/ha.

b.Penambahan Pupuk Hayati
Penambahan pupuk hayati dimaksudkan untuk meningkatkan keanekaragaman mikroorganisme yang menguntungkan khusus mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat dan penghasil fitohormon. Penambahan mikroba penambat nitrogen sangat diperlukan untuk meningkatkan efektifitas pemupukan N. Sebagaimana kita ketahui, untuk menghasilkan gabah 8 – 10 ton/ha diperlukan nitrogen yang cukup besar mencapai 200 – 300 kg N/ha. Pupuk hayati yang mengandung inokulan penambat N sangat diperlukan untuk mensuplai 50 – 75 % kebutuhan N sehingga aplikasi pupuk kimia tidak terlalu tinggi.

Salah satu pupuk hayati yang dapat digunakan adalah pupuk BIO PRIMA yang mengandung inokulan lengkap penambat nitrogen dan pelarut fosfat, pemantap agregat dan penghasil fitohormon.

c.Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit sedapat mungkin terhindar dari penggunaan bahan-bahan kimia. Penggunaan pestisida hayati dan pestisida nabati sangat diperlukan untuk mengendalikan hama dan penyakit. Pengendalian penyakit secara hayati dapat dilakukan dengan menggunakan agensia hayati sedangkan pengendalian nabati dapat dilakukan pestisida nabati seperti Mitol 20 EC yang mengandung ekstrak cengkeh. Pengendalian hama secara hayati dapat digunakan inokulan Beauveria sp. seperti Mikoria dan produk sejenis.

d.Pengeloaan Air
Pengelolaan air sangat menentukan keberhasilan teknologi HES. Pengelolaan air sedapat mungkin menciptakan kondisi aerobik di dalam tanah untuk merangsang pertumbuhan mikroorganisme dan system perakaran yang banyak. Salah satu system pengairan yang perlu dalam teknologi HES adalah System of Rice Intensification (SRI) yang telah diteliti dan dikembangkan badan riset Departemen PU.

Metode Pelaksanaan Teknologi BioFOB-HES
a.Persemaian benih
Sebelum benih disemaikan terlebih dahulu dilakukan seleksi benih dengan cara merendam benih dalam air. Benih yang mengambang lalu di buang. Benih yang baik kemudian diperam selama 24 jam. Setelah diperam benih diberi perlakuan dengan cara merendam benih dalam larutan yang mengandung Bio Triba 10 cc/liter air atau larutan yang mengandung BioFoB 20 cc/liter air selama 20 menit. Benih yang telah diperlakukan lalu disemaikan pada bedengan yang telah dipersiapkan.
Bedengan dibuat dengan lebar 2 meter, tinggi 10 cm dan panjang sesuai dengan kondisi lahan. Sebelum disemai bedengan lebih dahulu ditaburi kompos OrganoTRIBA sebanyak 200 g/m2 bedengan. Pada umur 7 hari setelah semai benih dipupuk dengan menggunakan pupuk BIO PRIMA sebanyak 20 gram/m2.

b.Pengolahan lahan
Pengolahan lahan dilakukan seperti biasa. Setelah lahan diratakan dibuat saluran air disekeliling petakan dan dalam petakan dengan jarak 3 meter antar saluran. Dalam saluran air yang ideal diperkirakan 15 cm dengan lebar 20 cm
Apabila pada lahan terdapat banyak jerami perlu dikukan pengomposan dilapangan dengan menyemprotkan dekomposer yang dapat mempercepat pelapukan jerami. Pengomposan jerami dilakukan 7 hari sebelum dilakukan perataan lahan.

c.Pemupukan dasar
Pemupukan dasar dilakukan sebelum tanam dengan menggunakan kompos (Organo TRIBA) atau pupuk organik yang telah diolah dengan BioTRIBAsebanyak 150 – 300 kg/ha + 25 Kg pupuk HI

d.Penanaman
Penanaman dilakukan pada saat bibit telah berumur 14 – 16 hari. Bibit ditanam sebanyak 1 – 2 tanaman per lubang dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm atau dengan menggunakan jarak tanam legowo 2 dengan jarak antar barisan 25 cm, dalam barisan 12.5 cm dan jarak legowo 50 cm.

e.Pemeliharaan Tanaman
Pada umur 10 hari tanaman disemprot dengan pupuk organik cair 1 cc/liter yang dicampur dengan Mikoria (inokulan Beauveria sp.).

Pada umur 14 hari dilakukan penyiangan gulma secara manual dengan menggunakan alat penyiang.

Pada umur 15 hari dilakukan pemupukan susulan dengan menggunakan pupuk OrganoTRIBA 50 kg/ha + Urea 50 Kg/ha + Smart-SP 50 Kg/ha + KCl 25 Kg/ha

Pada umur 21 hari tanaman disemprot dengan inokulan Beauveria sp. (Mikoria) dan pupuk cair organik 1.5 cc/liter

Pada umur 30 hari dilakukan penyiangan kedua dengan cara manual atau menggunakan alat penyiang.

Pada umur 31 hari dilakukan pemupukan susulan dengan menggunakan urea sebanyak 50 kg/ha

Pada umur 45 hari dilakukan penyemprotan Mikoria 100g/ 15 liter air + pupuk cair organik 2.5 cc/liter.

Pada umur 60 hari dilakukan penyemprotan dengan menggunakan Mikoria 100g/15 l (1 tangki)

Pada umur 70 hari dilakukan penyemprotan dengan menggunakan Mitol 20EC sebanyak 3 – 5 cc/liter.

NEOTRADISIONAL PERTANIAN: SEBUAH PILIHAN


Dr. Ir. Mesak Tombe, melalui rekayasa Biotriba berhasil menaikkan produktivitas hasil panen. Pada Jagung, tanpa kompos dan tanpa Biotriba, produksinya 2,28 ton per ha. Dengan kompos namun tanpa Biotriba, produksinya 5,04 ton per ha. Namun dengan kompos dan Biotriba, produksinya menjadi 5,58 ton per ha.

Pada Bawang Merah, tanpa kompos dan Biotriba, produksinya 14,83 ton per ha. Dengan kompos dan tanpa Biotriba, produksinya 21,14 ton per ha. Namun dengan kompos dan Biotriba, produksinya 23,97 ton per ha. Pada Petsai, tanpa kompos dan Biotriba, produksinya 3,42 ton per ha. Dengan kompos dan tanpa Biotriba, produksinya 8,79 ton per ha. Sedangkan dengan kompos dan Biotriba, produksinya menjadi 12,29 ton per ha.

Peluang dan Tantangan
Bertani organik perlu kesabaran serius. Tiga tahun pertama adalah masa transisi. Produksi akan turun. Kandungan hara pupuk organik jauh di bawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dasar tanaman (minimum crop requirement) cukup membuat petani kewalahan. Perlu biaya cukup untuk usaha konversi.

Produk pertanian organik memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan produk nonorganik di pasar konvensional. Rata-rata harganya sekitar 100–300 persen lebih mahal dibanding produk pertanian non-organik. Hal ini amatlah wajar. Produsen pertanian organik di dunia masih belum banyak. Tidak hanya untuk sayuran dan buah-buahan, pasar organik rempah di luar negeri pun terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Harganya bisa mencapai Rp 25.000 s.d Rp 28.000 per kg.

Kendalanya adalah mahalnya biaya sertifikasi. Mayoritas petani Indonesia bermodal kecil dan berlahan sempit. Namun, hal ini tidaklah menjadi masalah bila petani dalam satu wilayah atau daerah dapat berkoordinasi untuk melakukan sertifikasi berbentuk kelompok usaha bersama. Tentunya melibatkan peran pemerintah dan sektor swasta, baik sebagai penyedia sumber permodalan maupun pembuka akses pasar.

Untuk NTT, pertanian organik sangat cocok untuk lahan kering. Hal ini kurang lebih cocok dengan kondisi dan potensi lahan NTT. Perbandingan potensi lahan basah 127.271 ha lebih sedikit dari potensi lahan kering 1.528.306 ha, dan padang seluas 1.939.801 ha. Bahkan pada masa-masa kering, pertanian organik mampu menghasilkan panen sama banyaknya pada masa basah.

Stigma kemiskinan dengan segala parameternya seperti rawan pangan, kurang gizi dapat diatasi dengan budi daya pertanian organik. Petani dapat sekaligus menjadi produsen dan konsumen, petani dan peternak. Arah pemikiran pertama dan utama harus ditujukan pada suplai makanan yang sehat dan bergizi untuk populasi masyarakat NTT. Sambil tidak melupakan industrialisasi pertanian.

Kalau pilihannya demikian, pertanyaannya adalah, seberapa besar dukungan untuk penelitian dan pengembanan pertanian organik? Dapatkah petani-petani secara kontinu dan intens diberi kesempatan mengikuti pelatihan, penyuluhan, pendampingan berkaitan dengan pertanian organik?( Alexander Yopi Susanto)

Alexander Yopi Susanto adalah alumnus STFK Ledalero, anggota FAN, pernah bekerja pada beberapa perusahaan dan organisasi berbasis IT, Advokasi Pertanahan, MIGAS, Advokasi Anak, berdomisili di Jakarta


(Bio-triba Rp.7.500,-/ 250 ml dan Rp. 25.000/1 liter)

BIO-ORGANIC SOIL TREATMENT UNTUK KELAPA SAWIT


Pupuk Bio-Organic Soil Treatment ini adalah pupuk organik yang terbuat dari bahan organik dan bahan alam yang sudah diperkenalkan di dunia sejak dejak decade 80-an. Pengolahan pupuk ini menggunakan Bio-Triba, sehingga bersifat mengembalikan daya dukung tanah (soil regenerator) dan berdasarkan konsep memperbaiki tanah dan kemudian tanah memberikan makanan kepada tanaman.

Pupuk Bio-Organic Soil Treatment terbuat dari humus, peat surface bog, tepung fosil, protein alami dan mikroba multi strain (Bio-Triba). Sehingga Pupuk Organic Soil Treatment bukan hanya sekedar pupuk organik biasa, tetapi lebih dari hanya dari sekedar soil conditioner.

Penggunaan pupuk ini memberikan manfat lebih karena , pupuk ini tidak beracun, dapat dipergunakan dalam setiap musim, memberikan keseimbangan pada pH tanah, memperbaiki sifat fisik tanah, dan memberikan kehidupan tanah kembali melalui asupan mikroorganisme, humus dan protein.

Pupuk Bio-Organic Soil Treatment berfungsi meningkatkan kemampuan tanah untuk penyerap hara dan air, sehingga mengurangi terjadinya leaching, pnguapan dan proses penjerapan. Aktivitas mikroba membantu terbentuknya enzim/hormon yang akan merangsang pertumbuhan akar tanaman. Aktivitas mikroba juga dapat membantu menguraikan unsur-unsur hara yang terikat kuat/terjerap, serta secara langsung (non-simbiotik) mampu mengambil N dari udara bebas.

Penggunaan Pupuk Organic soil treatment pada pembibitan utama kelapa sawit menunjukan bahwa penggunaan dosis 50 gram/polibag + 25% pupuk standard umum memberikan pengaruh lebih baik terhadap pertumbuhan bibit, hal ini terlihat dari pembesaran diameter batang, tinggi tanaman, serta penggunaan OST dapat menekan biaya pemupukan mencapai 50% dibandingkan dengan biaya umum bila digunakan baku pemupukan (Bulletin Pusat Penelitian perkebunan Marihat, Vol 11 – No. 1, 1991).

Hal ini juga pernah dilaporkan oleh PT. Salim Indoplantation pada tahun 1993, menyimpulkan bahwa penggunaan Organic Soil Treatment pada pembibitan Utama memberikan hasil pertumbuhan bibit yang tidak kalah dengan penggunaan pupuk baku dan dapat mengurangi dosis pupuk baku sebesar 50%.

Sementara penggunaan Organic Soil Treatment pada tanaman belum menghasilkan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, pada tahun 1993-1995 melaporkan bahwa penggunaan pupuk OST 500 gram/tanaman/tahun yang dikombinasikan dengan pupuk stadndar 50% memberikan hasil pertumbuhan tanaman lebih baik dari pemupukan standar untuk Luas permukaan daun dan pertambahan jumlah pelepah.

Penggunaan OST pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan oleh Incasi Raya Group pada tahun 1997 memberikan hasil bahwa penggunaan OST dengan dosis 900 gram/pohon/selama di TBM ditambah 50% pupuk standard lebih baik dibandingkan dengan penggunaan 100% pupuk umum, dan memberikan penghematan biaya pemupukan sebesar 33.20%.

Penggunaan Organic Soil Treatment dengan dosis 250-500 gram/pohon pada tanaman kelapa sawit menghasilkan yang dikombinasikan dengan pupuk standar 50% menghasilkan produksi tanaman meningkat 35-57% dan dapat menghemat biaya pemupukan hingga 23,65-40,00% .

Penggunaan diSP2 Bio-Organic Soil Treatment (BIOST) Plasma PT. Sari Lembah Subur UKUI, Desa Banjar Panjang pada tahun 2004 produksi meningkat 12.70%-22.50% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi dari 651-953 Ton meningkat menjadi 734-1.058 Ton/Tahun.

Penggunaan BioOrganic Soil Treatment (BIOST) dari tahun 2003 sampai dengan 2005 memberikan peningkatan produksi yang signifikan di Plasma SP1 kebun Duta Surya Pratama, Kalimantan Barat dari produksi sekitar 650-750 Ton/bulan di Tahun 2003 menjadi 1200-1300 Ton/bulan di tahun 2005.

Penggunaan Bioorganic Soil Treatment (BIOST ) dilaporkan dapat mengurangi masa trek pada tanaman sawit dan karet.

Penggunaan Organic Soil Treatment dapat juga digunakan untuk tanaman padi, kentang, cabe, coklat, kopi, karet dan lainnya.

Spesisikasi Pupuk Bio-organic Soil Treatment mengandungan C-Organik 12-20%, N-Total 1.2-2.3%, P2O5-Total 2,0-3,0%; K2O 1,5-2,2%; MgO 0,8 – 1,2%; CaO 4,0 – 5,0% dan mengandung unsuremikro seperti Boron, Fe, Zn, Mn dan Cu.

Pupuk Bio-Organic Soil Treatment ini mengandung mikroba : Azotobacter, sp., Aspergillus, sp., Bacillus, sp., Tricoderma dan lain-lain.

Dosis Penggunaan Pupuk Bio Organic Soil Treatment (BIOST) adalah :

Pembibitan Utama :
75-100 gram/polibag, Pupuk BIOST diberikan pada awal penanaman bibit.

Tanaman Belum Menghasilkan :
TBM 1 dosis 150-250 gram/pohon/thn
TBM 2 dosis 250-400 gram/pohon/thn
TBM 3 dosis 400-600 gram/pohon/thn

Tanaman Menghasilkan :
TM < 7 Thn dosis 500 – 1000 gram/phn/thn
TM > 7 Thn dosis 600 – 1200 gram/phn/thn

(Bio-triba Rp. 25.000/liter; Organo-triba atau kompos organik Rp. 1.250/kg, stok trsedia)

PROSPEK PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA


Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia
Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar. Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain: 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

(Sumber: Litbang pertanian)

CARA BERTANI VANILI YANG SEHAT DAN EFEKTIF


Untuk mewujudkan pertanaman vanili yang sehat maka diawali dengan penggunaan bibit bermutu yakni vanili Bio-FOB yang menggunakan tiga macam mikroorganisme yaitu Fusarium oxysporum, Bacillus pantotkenticus, dan Trichoderma lactae. Secara generatif bibit harus tulen (memiliki sifat seperti induknya), murni (biji tidak tercampur dengan yang berkualitas jelek), dan segar (biji dalam kondisi segar dan sehat). Secara vegetatif bibit harus sehat dan cukup umur, sudah mengeluarkan sulur dahan yang kuat, dan tanaman induk belum sampai berbuah.

Penyiapan lahan dilakukan dengan mengolah tanah pada pertengahan musim kemarau agar pada awal musim hujan pohon pelindung dapat ditanam. Setelah diolah tanah dibuat bedengan dengan lebar 80-120 cm dan lebar parit 30-50 cm.

Bibit ditanam pada lubang tanam berukuran 20 cm x 15 cm x 10 cm atau 25 cm x 20 cm x 12 cm atau 30 cm x 25 cm x 15 cm. Setek ditanam dengan cara memasukkan tiga ruas seluruhnya ke lubang tanam secara mendatar, kemudian lubang tanam ditutup dengan tanah yang telah dicampur pupuk kandang. Bagian tanaman yang tidak tertutup tanah diikatkan pada pohon panjatan dengan ikatan longgar.

Pemupukan dilakukan dengan cara menebar pupuk di sekitar pohon kemudian ditimbun tanah. Pupuk yang dibutuhkan adalah pupuk kandang 10-20 kg, urea 8 kg, SP-36 4 kg, KCl 14 kg, CaO 5 kg, dan Mg 2,5 kg per pohon per tahun.

Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyulaman, penyiangan, pembumbunan, dan pemangkasan. Penyulaman dilakukan jika ada bibit yang terserang penyakit dan menggantinya dengan tanaman segar. Penyiangan dilakukan sebulan sekali setelah tanam pada sekeliling tanaman. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk menjaga bedengan tetap rapi.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan menggunakan insektisida (Furadan, Leadarsenate), fungisida (Cupravit, Dithane, Benlate) atau menggunakan Bio-TRIBA dan fungisida nabati Mitol 20 EC. Bio-TRIBA dalam bentuk cair mengandung dua jenis mikroorganisme yaitu B. pantotkenticus dan T. lactae, sebagai biodekomposer limbah organik dan biofungisida untuk pengendalian patogen tanaman serta dapat dicampur dengan pupuk organik dalam aplikasinya. Fungisida Nabati Mitol 20 EC mengandung bahan aktif eugenol dari cengkeh, toksik terhadapR. lignosus, R. solani, F. oxysporum, F. solani, Pythium, S. rolfsii termasuk patogen penyebab BBP dan jamur kontaminan pada pascapanen seperti Aspergillus dan Penicillium (sumber: primatani-litbang).

MENJADI MILIARDER DENGAN BERTANI ORGANIK


Seringkali kita mendengar keluhan klasik petani Indonesia, produktivitas hasil panen turun dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat. Ada apa sebenarnya? Bukankah negara kita dikenal dengan sebutan negara agraris?

Dulu, nenek moyang kita bercocok tanam dengan cara sederhana dan belum ada penemuan teknologi pertanian seperti zaman sekarang. Tapi, kenapa mereka bisa menjadikan negeri ini kaya raya, sehingga banyak bangsa lain tergoda menjajahnya? Ada yang salah dengan teknologi pertanian kita!

Ketergantungan pada penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia yang semakin mahal harganya menjadikan biaya produksi petani kian meningkat. Awalnya memang menggembirakan. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia menjadikan hasil panen petani berlipat ganda. Segalanya menjadi serba mudah untuk menyiasati kondisi alam yang tidak bersahabat dengan bantuan zat kimia tesebut.

Tetapi, kita tidak sadar bahwa zat kimia ibarat candu bagi kondisi tanah sebagai tempat tinggal tanaman. Sebagai contoh, pemberian dosis 1x untuk mendapatkan hasil panen 2x, pada jangka waktu tertentu akan menjadi pemberian dosis 2x untuk mendapatkan hasil panen 2x.

Karena apa? Zat kimia merusak struktur tanah. Tanah menjadi sakit, sudah tidak ada lagi mikroorganisme hidup di dalamnya yang sebenarnya sangat membantu mempertahankan keseimbangan struktur tanah secara alami.

Lalu, bagaimanakah solusinya? Back to organic. Mulailah mengendalikan penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dengan cara bijaksana. Bila perlu, tinggalkan dan mulai menerapkan kembali pola bercocok tanam nenek moyang kita dahulu dengan teknologi kompos untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Untuk beberapa periode panen, tentunya petani harus siap. Karena, poduktivitas hasil pertanian akan turun karena proses pemulihan struktur tanah.

Dari hasil polling 2 kelompok petani yang berbeda, didapat alasan kenapa petani tidak ingin menggunakan teknologi kompos, 60% tidak yakin dengan efektivitasnya (lamanya waktu pengolahan dari bahan baku sampai dengan siap kompos). Tapi, sebanyak 64% menjawab bahwa pupuk kompos tidak tersedia di lapangan.

Memang betul bahwa dengan cara sederhana, pengolahan kotoran ternak sebagai bahan baku kompos memerlukan waktu 1 bulan sampai siap diberikan pada tanaman. Tidak salah bila budaya petani kita adalah budaya petani yang sangat memerlukan teknologi pertanian yang aplikatif dengan biaya terjangkau. Budaya ini yang akhirnya menjadikan pupuk dan obat-obatan kimia laris manis bak kacang goreng saat awal diterapkannya.

Alangkah baiknya bila ilmuwan dan peneliti kita terus tertantang untuk menemukan teknologi pertanian yang aplikatif dengan biaya terjangkau serta bersifat organik. Seperti yang telah dilakukan oleh Dr. Ir. Mesak Tombe, peneliti utama dari Balai Tanaman Obat dan Aromatika, Bogor.

Hasil penemuan doktor lulusan Jepang ini telah membantu petani untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian berupa teknologi bio triba yang sangat bermanfaat dalam pengolahan kompos organik.

Teknologi bio triba sangat membantu dalam proses penguraian limbah menjadi kompos melalui bantuan mikroorganisme secara terkendali. Mikroorganisme tersebut tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, namun dapat pula mengendalikan patogen pada tanaman dengan Trichodherma dan Bacillus.

Hasil Penelitian pada Tanaman Jagung:
1. Tanpa kompos dan tanpa Bio Triba, produksinya 2,28 ton per ha
2. Kompos namun Tanpa Bio Triba, produksinya 5,04 ton per ha
3. Kompos dan Bio Triba, produksinya 5,58 ton per ha

Hasil Penelitian pada Tanaman Bawang Merah:
1. Tanpa kompos dan tanpa Bio Triba, produksinya 14,83 ton per ha
2. Kompos namun Tanpa Bio Triba, produksinya 21,14 ton per ha
3. Kompos dan Bio Triba, produksinya 23,97 ton per ha

Hasil Penelitian pada Tanaman Petsai:
1.Tanpa Kompos dan Tanpa Bio Triba Produksi 3,42 ton per ha
2.Kompos namun Tanpa Bio Triba Produksi 8,79 ton per ha
3. Kompos dan Bio Triba, produksinya 12,29 ton per ha


Harga Produk Pertanian Organik Lebih Tinggi
Berita menarik, pasar produk pertanian organik memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan produk non-organik di pasar konvensional. Rata-rata harganya sekitar 100–300 persen lebih mahal dibanding produk pertanian non-organik. Hal ini amatlah wajar. Produsen pertanian organik di dunia masih belum banyak.

Di negara tetangga kita Singapura misalnya, diperkirakan lebih dari 50 ribu konsumen membelanjakan US$ 5 juta untuk produk pertanian organik. Australia dan Selandia Baru merupakan pemasok rutin ke negara Singa tersebut. GNP (gross national product) Singapura yang mencapai USD 95,5 miliar telah menjadikan negeri ini sebagai pasar
organik yang menjanjikan!

Tidak hanya sayuran dan buah-buahan, pasar organik rempah di luar negeri pun terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Produk rempah organik yang sudah menjadi primadona pilihan antara lain: lada merah, temu lawak, vanili, dan kayu Manis. Kita ambil contoh harga kayu manis, kualitas terbaik di Indonesia hanya
dihargai Rp2.600 s.d Rp5.000 per kg. Bandingkan di Eropa yang dihargai Rp25.000 s.d Rp28.000 per kg.

Kendala yang mungkin harus kita upayakan solusinya bilamana ingin membidik potensi ekspor produk pertanian organik tidak lain adalah mahalnya biaya sertifikasi. Seperti yang kita ketahui, mayoritas petani Indonesia adalah bermodal kecil dan berlahan sempit. Namun, hal ini tidaklah menjadi masalah bila petani dalam satu wilayah atau daerah dapat berkoordinasi untuk melakukan sertifikasi berupa bentuk kelompok.

Tentunya harus ada upaya kerjasama tidak hanya melibatkan koordinasi antarpetani. Peran Pemerintah dan sektor swasta amat dibutuhkan dalam hal ini, baik sebagai penyedia sumber permodalan maupun pembuka akses pasar.

Bertani organik juga perlu kesabaran serius. Awalnya petani akan dikagetkan dengan hasil produksi yang menurun secara drastis pascaperalihan dari pertanian konvensional menuju organik. Regulasi terbaru standar pertanian organik Eropa, perlu waktu 3 tahun pemeriksaan untuk produsen di negara berkembang yang akan memasuki pasar organik Eropa sebelum dinyatakan lulus sertifikasi. Lalu, selama 3 tahun tersebut, produk pertanian bersangkutan hanya dinyatakan produk konvensional atau non-organik.

Kombinasi usaha peternakan dan pertanian juga amat dianjurkan dalam melakukan budidaya pertanian organik. Ketersediaan bahan baku pupuk akan lebih mudah didapatkan dengan adanya produksi kotoran ternak yang kita pelihara.

Tidak hanya itu, daging hewan ternak dapat menjadi sumber penghasilan tambahan sebelum kita menunggu hasil panen pertanian organik dan menjadi miliarder petani organik Indonesia! Salam Organik! (Agus Ramada S, Direktur Utama Eka Agro Rama )

TEKNOLOGI BIO FOB DAN VANILI ORGANIK


Teknologi Bio-FOB adalah inovasi baru, memperkenalkan peranan mikroorganisme dan ekstra tanaman (metabolisme sekunder) dalam budidaya tanaman yang berorientasi organik farming dan ramah lingkungan. Mikroorganisme yang digunakan berperan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit (induksi ketahanan) dan produktivitas tanaman. Teknologi ini mulai dikaji pada tanaman vanili pada tahun 1990 dengan mengoleksi dan mengevaluasi potensi beberapa mikroorganisme berguna seperti Fusarium oxysporum non patogenik, Bacillus, Trichoderma, Penicillium dan Pseudomonas flourescens serta ekstrak tanaman.

Sejak tahun 2001 teknologi ini mulai diluncurkan dan dikembangkan secara luas pada tanaman vanili. Teknologi Bio-FOB menggunakan 3 jenis mikroorganisme yaitu Fusarium oxysporum non patogenik Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae serta ekstrak tanaman cengkeh sehingga dasar pengembangannya berorinetasi pada budaya tanaman organik. Dalam budidaya tanaman vanili dengan teknologi Bio-FOB tidak menggunakan pupuk anorganik dan pestisida sintetik. Dalam beberapa kajian menunjukkan teknologi Bio-FOB dapat digunakan pada tanaman lain terutama Bio-TRIBA, Organo-TRIBA dan Mitol 20 EC seperti pada tanaman jambu mente, lada, coklat, kopi dan tanaman sayuran.

Bibit Bio-FOB, dapat digunakan pada kebun yang belum pernah dan sudah pernah ditanami vanili atau kebun yang pernah terserang BBV. Bibit siap tanam adalah yang telah bertunas (3 - 5 daun) apabila lebih dari itu tanaman cepat patah didalam pengangkutan. Sebelum bibit dibawa kelapangan terlebih dahulu disiapkan tanaman pelindung, karena bibit vanili sangat sensitif terhadap cahaya matahari dan hujan yang terus menerus. Proses produksi bibit vanili Bio-FOB memerlukan waktu ± 3 bulan, sehingga apabila bibit akan ditanam pada bulan Oktober – Desember maka produksi bibit dilakukan antara bulan Juli - September.

Bio-TRIBA, digunakan untuk mengendalikan penyakit BBV dan busuk sklerotium. Digunakan untuk pembuatan kompos yang bermutu, limbah organik (hewan, pasar, rumah tangga dan pertanian). Dosis yang digunakan adalah 1 ton limbah organik digunakan 2 - 3 lt Bio-TRIBA. Untuk mempercepat proses dekomposisi sebaiknya limbah organik dicacah terlebih dahulu. Dicampur langsung dengan pupuk kandang / kompos. 1 ton pupuk kandang dapat dicampur 2 - 3 lt Bio-TRIBA dan diinkubasikan 1 - 2 minggu sebelum digunakan. Disiram langsung pada daerah sekitar perakaran dengan dosis 5 – 10 ml/lt air, sebaiknya diberikan setelah pemberian pupuk organik.

Sama halnya dengan bibit unggul lainnya, bibit vanili Bio-FOB agar dapat berhasil dengan baik memerlukan persyaratan tumbuh minimal sebagai berikut :

Tanaman vanili sangat sensitif terhadap cahaya matahari langsung. Intensitas cahaya optimal untuk pertumbuhan normal adalah ± 35%, terlalu banyak cahaya akan merusak tanaman dan pertumbuhan akan terhambat. Sehingga dalam mempersiapkan penanaman, tanaman pelindung harus (MUTLAK) siap terlebih dahulu dengan peraturan cahaya seperti diatas. Gejala kelebihan intensitas cahaya sinar matahari sering diasosiasikan penyakit BBV padahal bukan.

Akar tanaman vanili sangat sensitif terhadap genangan air, sehingga untuk lahan penanaman dipilih yang tidak tergenang air atau diusahakan agar tanaman tidak terendam air. Gejala busuk akar/pangkal batang akibat genangan air sering diasosiasikan oleh BBV padahal bukan. Dalam kondisi tanaman seperti itu akan mudah diserang patogen penyakit termasuk BBV.

Tanaman vanili sangat sensitif terhadap kekeringan, sehingga lahan yang dipilih adalah yang dekat dengan sumber air terutama pada waktu musim kemarau. Kekeringan akan menyebabkan akar rusak sehingga pangkal batang akan terputus. Apabila tidak segera dibantu dengan air maka tanaman akan mati. Gejala kerusakan tanaman akibat kekurangan air karena tidak disiram selama kemarau sering diasosiasikan BBV padahal bukan.

Tanaman vanili memerlukan musim kemarau yang tegas untuk merangsang pembungaan. Pembungaan akan lebih baik jika tanaman tersebut cukup air dengan penyiraman.


Ketinggian tempat berkisar 50 – 800 m dpl, dan tidak berawan terutama pada musim kemarau, agar pembungaan dapat optimal.

Petunjuk penanaman dan peliharaan tanaman supaya diikuti dengan baik, agar tingkat keberhasilannya tinggi (sumber: ORGANIC INDONESIAN VANILLA) .

MARI BERTANI SEHAT


Upaya sosialisasi akan bahaya penggunaan pestisida, fungisida dan insektisida kimia dalam pola bercocok tanam organik dan bertani sehat adalah ibarat perjuangan kemerdekaan yang jangan sampai pernah ada habisnya.

Terlepas pada kenyataan lapangan sebenarnya bila masih terdapat petani yang belum sepenuhnya sadar betul akan bahaya kimia sintetis yang terkandung dalam obat-obatan buatan pabrik ini, namun tuntutan pasar pada suatu saat semoga akan menyadarkan petani bila kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan sangatlah penting untuk kelanjutan hidup di alam semesta ini.

Terlebih bilamana kesejahteraan ekonomi merupakan tujuan akhir dalam budidaya usaha pertanian yang sedang dilakukan, kesadaran konsumen masyarakat dunia seharusnya menjadikan larangan lampu merah untuk aplikasi penggunaan kimia sintetis ini pada produk-produk pertanian yang berorientasi ekspor.

Informasi menarik diperoleh dari situs www.chem-is-try.org yang semoga dapat memberikan motivasi dan semangat bagi para ilmuwan, peneliti, petani dan pelaku budidaya usaha pertanian lainnya dalam memperjuangkan kemerdekaan pola bercocok tanam organik dan bertani sehat, adalah seorang yang bernama Rachel Louise Carson lulusan John Hopkins University di bidang zoology. Ia adalah penulis sebuah buku yang berjudul Silent Spring yang berarti kesunyian dimusim semi.

Seperti yang diceritakan oleh Tatang Sopian seorang staf dinas kehutanan Purwakarta yang saat ini menjadi mahasiswa di Universitas Agri Tech, Tokyo, buku ini mengisahkan tentang alam dimusim semi yang tadinya cerah dan dipenuhi suara burung berkicau dan organisme hidup, tiba-tiba terusik oleh pestisida yang mengakibatkan terbunuhnya mikroorganisme hidup dan mengancam kehidupan manusia.

Penjelasan Rachel dalam buku tersebut sangatlah ilmiah namun dikemas dalam bentuk bahasa keseharian dan sederhana. Buku ini menjadikan tekanan keras bagi Rachel khususnya dari pabrik industri kimia, sampai pada akhirnya Kongres Amerika memanggilnya untuk kemudian berpihak kemenangan bagi Rachel dengan dibentuknya Undang-Undang Nasional Perlindungan Lingkungan di Amerika Serikat pada tahun 1969, NEPA – National Environmental Protection Act.

Perjuangan Rachel tidak sia-sia, kini para peneliti, ilmuwan dan konsume masyarakat dunia mulai bersepakat bila penggunaan kimia sintetis dalam penanggulangan hama dan penyakit tanaman adalah bukan membasmi hama yang bersangkutan dalam waktu singkat, akan tetapi malah akan menyebabkan terjadinya ledakan jumlah populasi hama sebagai akibat kematian musuh alami dari hama bersangkutan tanpa disengaja melalui penggunaan kimia sintetis tersebut.

Artikel menarik pada situs www.suloh.or.id yang ditulis oleh Aras, obat mujarab dan cespleng tampaknya lebih disukai oleh umumnya para pelaku pertanian konvensional. Promosi keampuhan merek suatu pestisida dalam membasmi hama tampaknya sah-sah saja dan wajar untuk diterima. Tanya kenapa?

Padahal, Dr. Ir. Ririen Prihandarini selaku Sekjen Masyarakat Pertanian Organik Indonesia dalam penjelasannya pada situs www.kontan-online.com menyampaikan, pestisida kimia mempunyai masa degradasi yang sangat panjang pada setiap aplikasinya, tidak bisa dalam waktu sekejap untuk menghilangkan residu kimia sintetis dan menetralkannya.

Patut berbahagia bila atmosfer positif mulai dapat dirasakan dalam pola bercocok tanam organik dan bertani sehat di Indonesia. Penggunaan pestisida, insektisida dan fungisida nabati serta pengendalian hama secara terpadu seperti pengaturan jarak tanam, rotasi tanaman dan penggunaan predator dari hama dan penyakit bersangkutan sudah mulai membudaya di kalangan petani cerdas Indonesia walaupun memang belum seluruhnya.

Adalah diperlukan niat, tekad, semangat, kesabaran dan kerja keras dikalangan petani kita untuk mulai menghentikan penggunaan kimia sintetis dan beralih ke nabati. Kegiatan penyuluhan dan bimbingan yang tak kenal henti serta lelah ibarat perjuangan merebut kemerdekaan yang sangat diperlukan.

Sebuah artikel menarik diperoleh dari situs www.kebonkembang.com yang ditulis oleh Mona Sintia, yaitu mengenai ramuan pestisida nabati yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman. Bahan-bahan rempah seperti kunyit, sereh, bawang putih, daun jarak kemudian daun diffen adalah contoh jenis tanaman yang dapat menjadi ramuan pestisida nabati sebagai pengganti ramuan cespleng ala pestisida kimia buatan pabrik. Namun satu hal yang perlu diingat bila khasiat penggunaan pestisida nabati adalah berbeda dengan pestisida kimia. Penggunaan pestisida nabati adalah lebih mengarah kepada upaya mengusir hama dengan menjadikan kondisi tanaman sebagai tempat tinggal yang tidak nyaman bagi hama bersangkutan. Sedangkan penggunaan pestisida kimia adalah menjurus kepada upaya mematikan hama yang ada ditanaman tersebut dimana tanpa disadari akan sekaligus juga membumi hanguskan mahluk hidup lainnya yang tinggal disekitarnya (Cespleng).

Pengenalan jenis tanaman, jenis hama kemudian pengamatan pada kondisi tanaman merupakan syarat kualifikasi bagi petani yang tergolong cerdas dalam penggunaan pestisida nabati. Sebagai contoh semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, penjelasan Mona Sintia dalam artikelnya menyarankan menyemprot air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen dan lainnya. Kemudian misalkan kutu putih pada daun atau batang, siung bawang putih yang ditumbuk kemudian diperas airnya dan dicampur dengan air pada dosis tertentu untuk selanjutnya disemprotkan dapat menjadikan kondisi tidak nyaman bagi hama dimaksud.

Campuran sedikit minyak kelapa juga dapat dipergunakan pada air perasan siung bawang putih. Bahkan buah jengkol pun ternyata bila ditebarkan disekitar tanaman atau pada lubang tikus akan sangat bermanfaat dan membuat jera keberadaan jenis hewan pengerat tersebut. Sungguh amat luar biasa tentunya keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini lengkap dengan segala isinya.

Berita baik untuk petani cerdas di Indonesia saat ini, penggunaan pestisida, insektisida dan fungisida nabati berupa ramuan dari berbagaimacam bahan rempah oleh beberapa ilmuwan dan peneliti tanah air telah diujicobakan dan dikembangkan pula dalam bentuk ekstrak nabati sehingga dalam pengadaan dan aplikasinya akan menjadi jauh lebih mudah dan praktis.

Suatu penemuan yang bermanfaat tentunya dalam menunjang upaya pola bercocok tanam organik dan bertani sehat. Di mana patut berbangga pula bila hutan di Indonesia adalah banyak menyimpan keanekaragaman bahan ekstrak nabati tersebut. Situs www.dinasperkebunanbali.info, ada 500 spesies tanaman yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangan hama (Prijono, 1999), kemudian terdapat 2.400 spesies tanaman yang mengandung senyawa aktif sebagai insektisida (Kardiman, 1999).

Dan di Indonesia, daftar bahan-bahan yang bisa digunakan untuk mengatasi hama dan penyakit secara organik telah diatur berdasarkan SNI 01-6729-2002 antara lain: pestisida jenis Pyrethrins yang diekstrak dari Chysanthenum cinerariaefolium, pestisida Rotenone dari Derris elliptica, Lonchocarpus, Thephrosia sp, rumput laut, tepung rumput laut/ agar-agar, ekstrak rumput laut, garam laut dan air laut, teh tembakau (kecuali nikotin murni), pestisida nabati (tidak termasuk tembakau), garam tembaga dan belerang yang informasi lengkapnya dapat diperoleh melalui situs www.bsn.or.id.

Adapun salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang telah berhasil menemukan ektraks nabati tersebut antara lain adalah, Dr. Ir. Mesak Tombe, peneliti utama dari Balai Tanaman Obat dan Aromatika – Bogor, Indonesia, penemuan doktor murah senyum lulusan Jepang ini antara lain fungisida nabati produk cengkeh yang diketahui bila limbah cengkeh seperti daun dan gagang mengandung senyawa eugenol yang toksik terhadap beberapa patogen tanah seperti F.oxysporum, F.solani, R.lignosus, R.solani, P.capsici dan S.rolfsii. Penemuan beliau telah dipatenkan berupa teknologi Mitol 20 EC yang mengandung eugenol 20% dan sitral 1% dari ekstrak daun dan gagang atau bunga cengkeh dan sereh.

Teknologi ini juga sangat membantu untuk meningkatkan produktivitas tanaman menjadi 2,5 kali lipat antara lain pada Jambu Mete. Teknologi lainnya yang ditemukan Dr. Ir. Mesak Tombe disamping Mitol 20 EC dan juga sudah dikenal di Indonesia bahkan manca negara adalah Bio FOB dan Bio TRIBA.

Semoga informasi ini dapat memompa semangat, tekad dan kerja keras para petani cerdas di Indonesia, peneliti, ilmuwan dan pelaku usaha pertanian organik lainnya, di mana penggunaan pestisida, fungisida dan insektisida nabati dalam pola bercocok tanam organik dan bertani sehat adalah bentuk kesadaran terhadap kesehatan manusia serta kelestarian lingkungan.

Kalaupun masih ada petani yang menjadikan ertimbangan dan alasan nilai ekonomis sebagai dasar tujuan penggunaan pestisida, fungsida dan insektisida kimia, adalah suatu kesalahan besar di mana tidak sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan kebutuhan pasar saat ini. Salam Bertani Sehat!(Agus Ramada Setiadi – Eka Agro Rama)