Teknologi Bio-FOB adalah inovasi baru dalam budidaya pertanian dengan memanfaatkan mikroorganisme dan ekstrak tanaman. Teknologi ini berorientasi organic farming (pertanian organik) dan ramah lingkungan.
Mikroorganisme yang digunakan dalam teknologi Bio-FOB bisa meningkatkan ketahanan, mutu dan produktivitas tanaman. Ada 3 jenis mikroorganisme yang digunakan dalam teknologi Bio-FOB yaitu F. oxysporum non patogenik, Bacillus pantotkenticus ,Trichoderma lactae. Sedangkan ektrak tanaman yang dipakai adalah ekstrak tanaman cengkeh.
Teknologi ini mulai dikaji pada tanaman vanili sejak tahun 1990 dengan mengkoleksi dan mengevaluasi potensi beberapa mikroorganisme yang berguna seperti Fusarium oxysporum non patogenik, Bacillus, Trichoderma, Penicillium dan Pseudomonas flourescens serta ektrak tanaman. Sejak tahun 2001 teknologi ini mulai diluncurkan dan dikembangkan secara luas pada tanaman vanili. Dalam budidaya tanaman vanili dengan teknologi Bio-FOB tersebut tidak lagi menggunakan pupuk anorganik dan pestisida sintetik.
Dalam beberapa kajian menunjukkan teknologi Bio-FOB dapat digunakan pada tanaman lain selain vanili di antaranya; jambu mente, lada, coklat, cabe, padi, sawit, kopi, kedelai dan tanaman sayuran dapat meningkatkan kualitas dan produksinya.
SPESIFIKASI KOMPONEN TEKNOLOGI
1. Bibit Bio-FOB: Bibit Bio-FOB diproduksi dengan menggunakan Fusarium oxysporum non patogenik (Fo.NP). Mikroba ini berfungsi untuk menginduksi sistem ketahanan tanaman serta merangsang perakaran yang diduga menghasilkan hormon pertumbuhan pada perakaran. Fo.NP dapat menginduksi sistem ketahanan tanaman dengan meningkatnya aktivitas beberapa enzim tertentu dalam sistem metabolisme tanaman yaitu: β-1,4 glucosidae, β-1,3-glucanase dan chitinase. Untuk memproduk bibit dalam skala besar telah ada 3 macam formula Fo.NP yaitu; Bio-FOB EC (cair), Bio-FOB WP (Powder), dan Organik-FOB.
2. Bio-TRIBA : Formula dalam bentuk cair ini mengandung dua jenis mikroorganisme yaitu B. pantotkenticus dan T. lactae. Larutan ini dapat digunakan sebagai biodekomposer limbah organik dan biofungisida untuk pengendalian patogen tanaman serta dapat dicampur dengan pupuk organik.
3. Fungisida Nabati Mitol EC : Formula ini mengandung bahan aktif eugenol dan sitral yang diekstrak dari tanaman cengkeh dan sereh wangi. Senyawa eugenol asal cengkeh toksik terhadap beberapa patogen tanaman di antaranya R. lignosus, R. solani, F. oxysporum, F. solani, Pythium S. Rolfsii. (tulisan ini dipublikasikan di Tabloit Sinar Tani edisi Februari 2010)
4. Organo-TRIBA. Kompos organik yang diproses dari limbah organik dengan menggunakan Bio-TRIBA sebagai bio-dekomposer mengandung beberapa mikroorganisme berguna antara lain Bacillus, Trichoderma, P. flourescens dan Penicillium. Ekstrak kompos Organo- TRIBA dapat bersifat pestisidal (dapat berfungsi sebagai pestisida) terhadap beberapa jamur soil borne pathogen.
Sumber: Tabloid Sinar Tani Edisi Feb 2010
Potensi Pemanfaatan Limbah Perkebunan Menjadi Pupuk Organik
Sebagian besar limbah perkebunan seperti kulit buah kakao, kulit buah kopi, buah semu jambu mete, pelepah dan tandan kosong kelapa sawit, limbah tebu, pelepah dan limbah sabut kelapa merupakan bio-massa yang sangat berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah secara alami.
Rendahnya kandungan bahan organik tanah di perkebunan disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penambahan dan hilangnya bahan organik dari tanah utamanya melalui proses oksidasi biologis dalam tanah, sehingga perlu dilakukan untuk peningkatan kandungan bahan organik tanah melalui pemberian pupuk organik.
Produksi limbah perkebunan diperkirakan setiap tahunnya cukup besar. Perkiraan potensi limbah beberapa komoditi perkebunan sebagai bahan baku pupuk organik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Potensi pemanfaatan limbah komoditi perkebunan seperti pada tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kakao
Komponen utama dari buah kakao adalah kulit buah, plasenta, dan biji. Kulit buah merupakan komponen terbesar dari buah kakao, yaitu lebih dari 70% berat buah masak. Persentase biji kakao di dalam buah hanya sekitar 27-29%, sedangkan sisanya adalah plasenta yang merupakan pengikat dari 30 sampai 40 biji [Widyotomo et al., 2004b].
Pada areal 1(satu) hektar pertanaman kakao akan menghasilkan limbah segar kulit buah sekitar 5,8 ton setara dengan produk tepung limbah 812 kg. Potensi limbah kulit buah kakao dari suatu pabrik pengolahan kakao sebesar 15-22 m3/ha/tahun. Limbah kulit buah kakao tersebut merupakan sumber bahan baku [biomassa] yang sangat potensial sebagai sumber bahan baku pupuk organik [Sri Mulato et al., 2005].
Kopi
Pengolahan kopi secara basah akan menghasilkan limbah padat berupa kulit buah pada proses pengupasan buah (pulping) dan kulit tanduk pada saat penggerbusan (hulling). Limbah padat kulit buah kopi (pulp) belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki kadar bahan organik dan unsur hara yang memungkinkan untuk memperbaiiki tanah.
Hasil penelitian Puslitkoka, menunjukkan bahwa kadar C-organik kulit buah kopi adalah 45,3 %, kadar nitrogen 2,98 %, fosfor 0,18 % dan kalium 2,26 %. Selain itu kulit buah kopi juga mengandung unsur Ca, Mg, Mn, Fe, Cu dan Zn. Dalam 1 ha areal pertanaman kopi akan memproduksi limbah segar sekitar 1,8 ton setara dengan produksi tepung limbah 630 kg.
Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya sangat pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas.
Limbah cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan (sterilisasi), proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial mencemari air tanah dan badan air.
Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokan menjadi dua yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang atau tempurung, serabut atau serat, sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur yang tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat dan potensial menghasilkan air lindi (leachate).
Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah. Kandungan unsur hara kompos yang berasal dari limbah kelapa sawit sekitar 0,4 % (N), 0,029 sampai 0,05 % (P2O5), 0,15 sampai 0,2 % (K2O). Dalam 1 ha areal pertanaman kelapa sawit akan dihasilkan limbah sekitar 22 ton limbah pelepah kelapa sawit dan sedangkan dari limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) dihasilkan 6,75 ton limbah TKS.
Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobik sekunder dengan BOD 3.500-5000 mg/liter yang dapat menyumbangkan unsur hara terutama N dan K, bahan organik, dan sumber air terutama pada musim kemarau. Setiap pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan limbah pada berupa tandan kosong sawit (TKS) sebanyak 200-250 kg, sedangkan untuk setiap produksi 1 ton minyak sawit mentah (MSM) akan menghasilkan 0,6-0,7 ton limbah cair dengan BOD 20.000-60.000 mg/liter.
Kandungan hara limbah cair PKS adalah 450 mg N/l, 80 mg P/l, 1.250 mg K/l dan 215 mg/l. Sistem aplikasi limbah cair dapat dilakukan dengan system sprinkle (air memancar), flatbed (melalui pipa ke bak-bak distribusi ke parit sekunder), longbed (ke parit yang lurus dan berliku-liku) dan traktor tanki (pengangkutan limbah cair dari IPAL/Instalasi Pengolah Air Limbah) ke areal tanam.
Sumber: Dit. Perbenihan dan Sarana Produksi
Rendahnya kandungan bahan organik tanah di perkebunan disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penambahan dan hilangnya bahan organik dari tanah utamanya melalui proses oksidasi biologis dalam tanah, sehingga perlu dilakukan untuk peningkatan kandungan bahan organik tanah melalui pemberian pupuk organik.
Produksi limbah perkebunan diperkirakan setiap tahunnya cukup besar. Perkiraan potensi limbah beberapa komoditi perkebunan sebagai bahan baku pupuk organik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Potensi pemanfaatan limbah komoditi perkebunan seperti pada tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kakao
Komponen utama dari buah kakao adalah kulit buah, plasenta, dan biji. Kulit buah merupakan komponen terbesar dari buah kakao, yaitu lebih dari 70% berat buah masak. Persentase biji kakao di dalam buah hanya sekitar 27-29%, sedangkan sisanya adalah plasenta yang merupakan pengikat dari 30 sampai 40 biji [Widyotomo et al., 2004b].
Pada areal 1(satu) hektar pertanaman kakao akan menghasilkan limbah segar kulit buah sekitar 5,8 ton setara dengan produk tepung limbah 812 kg. Potensi limbah kulit buah kakao dari suatu pabrik pengolahan kakao sebesar 15-22 m3/ha/tahun. Limbah kulit buah kakao tersebut merupakan sumber bahan baku [biomassa] yang sangat potensial sebagai sumber bahan baku pupuk organik [Sri Mulato et al., 2005].
Kopi
Pengolahan kopi secara basah akan menghasilkan limbah padat berupa kulit buah pada proses pengupasan buah (pulping) dan kulit tanduk pada saat penggerbusan (hulling). Limbah padat kulit buah kopi (pulp) belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki kadar bahan organik dan unsur hara yang memungkinkan untuk memperbaiiki tanah.
Hasil penelitian Puslitkoka, menunjukkan bahwa kadar C-organik kulit buah kopi adalah 45,3 %, kadar nitrogen 2,98 %, fosfor 0,18 % dan kalium 2,26 %. Selain itu kulit buah kopi juga mengandung unsur Ca, Mg, Mn, Fe, Cu dan Zn. Dalam 1 ha areal pertanaman kopi akan memproduksi limbah segar sekitar 1,8 ton setara dengan produksi tepung limbah 630 kg.
Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya sangat pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas.
Limbah cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan (sterilisasi), proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial mencemari air tanah dan badan air.
Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokan menjadi dua yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang atau tempurung, serabut atau serat, sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur yang tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat dan potensial menghasilkan air lindi (leachate).
Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah. Kandungan unsur hara kompos yang berasal dari limbah kelapa sawit sekitar 0,4 % (N), 0,029 sampai 0,05 % (P2O5), 0,15 sampai 0,2 % (K2O). Dalam 1 ha areal pertanaman kelapa sawit akan dihasilkan limbah sekitar 22 ton limbah pelepah kelapa sawit dan sedangkan dari limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) dihasilkan 6,75 ton limbah TKS.
Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobik sekunder dengan BOD 3.500-5000 mg/liter yang dapat menyumbangkan unsur hara terutama N dan K, bahan organik, dan sumber air terutama pada musim kemarau. Setiap pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan limbah pada berupa tandan kosong sawit (TKS) sebanyak 200-250 kg, sedangkan untuk setiap produksi 1 ton minyak sawit mentah (MSM) akan menghasilkan 0,6-0,7 ton limbah cair dengan BOD 20.000-60.000 mg/liter.
Kandungan hara limbah cair PKS adalah 450 mg N/l, 80 mg P/l, 1.250 mg K/l dan 215 mg/l. Sistem aplikasi limbah cair dapat dilakukan dengan system sprinkle (air memancar), flatbed (melalui pipa ke bak-bak distribusi ke parit sekunder), longbed (ke parit yang lurus dan berliku-liku) dan traktor tanki (pengangkutan limbah cair dari IPAL/Instalasi Pengolah Air Limbah) ke areal tanam.
Sumber: Dit. Perbenihan dan Sarana Produksi
PAKAI BIO-TRIBA, PADI LEBIH SUBUR, HEMAT PUPUK DAN PRODUKSI TINGGI
Penggunaan bio-triba pada padi memberikan hasil yang luar biasa . Bapak H. Endang membuktikan hal tersebut. Petani asal Karawang tersebut mengaplikasikan Bio-Triba pada pertanam di atas 2 lahannya masing-masing seluas 2 dan 2,5 ha. Dan hasilnya cukup mengembirakan.
Ia coba menggunakan Bio-TRIBA dengan cara disempot. Ia tetap menggunakan NPK dan Urea seluruhnya namun hanya sebanyak 2 kuintal .
Dan hasilnya cukup mengembirakan. Ia mendapati anakan menjadi lebih banyak sekitar 30 anakan. Sedangkan jika tanpa perlakuan (Bio-TRIBA) , sekitar 20 anakan.
Pada pertanaman tidak dijumpai adanya serangan hama tikus. Berbeda ketika ia melakukan penanaman tanpa perlakuan.
Gambar. Tanaman Padi yang Tumbuh Subur dengan Aplikasi Bio-TRIBA
Tanaman terlihat lebih tinggi, rapat dan kekar / tidak rebah. Dan hasil panen sementara dengan luas 5 m x 5 m adalah 31 kg basah atau diperkirakan bisa mencapai 12,400 ton gabah basah/ha.
Hal ini sungguh mengejutkan baginya. Berdasarkan pengakuannya baru kali ini ia melihat sebuah manfaat luar biasa dari penggunaan formula tambahan selain pupuk.
Namun yang sungguhnya mengherankan, bagaimana penggunaan Bio-TRIBA bisa mengurangi penggunaan pupuk namun hasil produksinya bisa lebih tinggi. JIka tanpa perlakuan ia membutuhkan pupuk NPK dan urea sebanyak 3 kuintal. Tentu ini adalah salah satu keunggulan formula yang mengandung mikroorganisme tersebut.
Oleh sebab itu pengalaman Bapak H. Endang membuktikan Bio-TRIBA secara handal bisa diaplikasikan pada tanaman padi. Selain bisa menghemat pupuk, mempercepat pertumbuhan juga dapat meningkatkan produksi.
Ia coba menggunakan Bio-TRIBA dengan cara disempot. Ia tetap menggunakan NPK dan Urea seluruhnya namun hanya sebanyak 2 kuintal .
Dan hasilnya cukup mengembirakan. Ia mendapati anakan menjadi lebih banyak sekitar 30 anakan. Sedangkan jika tanpa perlakuan (Bio-TRIBA) , sekitar 20 anakan.
Pada pertanaman tidak dijumpai adanya serangan hama tikus. Berbeda ketika ia melakukan penanaman tanpa perlakuan.
Gambar. Tanaman Padi yang Tumbuh Subur dengan Aplikasi Bio-TRIBATanaman terlihat lebih tinggi, rapat dan kekar / tidak rebah. Dan hasil panen sementara dengan luas 5 m x 5 m adalah 31 kg basah atau diperkirakan bisa mencapai 12,400 ton gabah basah/ha.
Hal ini sungguh mengejutkan baginya. Berdasarkan pengakuannya baru kali ini ia melihat sebuah manfaat luar biasa dari penggunaan formula tambahan selain pupuk.
Namun yang sungguhnya mengherankan, bagaimana penggunaan Bio-TRIBA bisa mengurangi penggunaan pupuk namun hasil produksinya bisa lebih tinggi. JIka tanpa perlakuan ia membutuhkan pupuk NPK dan urea sebanyak 3 kuintal. Tentu ini adalah salah satu keunggulan formula yang mengandung mikroorganisme tersebut.
Oleh sebab itu pengalaman Bapak H. Endang membuktikan Bio-TRIBA secara handal bisa diaplikasikan pada tanaman padi. Selain bisa menghemat pupuk, mempercepat pertumbuhan juga dapat meningkatkan produksi.
BUKU KOMPOS BIOPESTISIDA

Anda ingin memproduksi kompos sendiri?
Buku ini layak Anda baca. Namun bukan “ Kompos biasa” melainkan kompos yang bisa berfungsi sebagai biopestisida yang disebut BioTRIBA
Pada dasarnya BioTRIBa adalah kompos yang dihasilkan dengan memanfaatkan mikoorganisme yang mampu meningkatkan daya fungsi dan hasil dari BioTRIBA. BioTRIBA tidak hanya mampu menyuburkan tanah dan tanaman, meningkatkan hasil tanaman, namun juga bisa memberantas patogen-patogen tanaman yang berbahaya.
Disamping penggunaan cenderung lebih hemat dan efesiensi dibandingkan dengan penggunaan kompos biasa ataupun pupuk kandang, pembuatannya pun relatif mudah dan murah.
Buku ini Anda adalah komitmen kami untuk menyebarkan luas Pengetahuan bermanfaat, tidak hanya melalui blog juga melalui buku. Dan para pembaca tidak hanya memahami namun juga kemudian memproduksi pupuk kompos bermanfaat ini secara mandiri.
Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, dsb.
CENGKEH : TANAMAN PESTISIDA NABATI YANG POTENSIAL

Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh dengan baik di hampir seluruh propinsi di Indonesia, terutama di Sulawesi dan Maluku. Sampai saat luas arel pertanaman cengkeh di Indonesia diperkirakan sekitar 200.000 ha. Cengkeh terutama banyak digunakan untuk Industry rokok dan minyak atsiri.
Potensi lain adalah bahwa suatu senyawa yang terdapat dalam ekstrak tanaman ini yaitu eugenol dan eugenol asetat ternyata dapat bersifat anti fungal terhadap pathogen penyakit yang sering menyerang tanaman antara lain, Fusarium, Phytopthora, Sclerotium, Jamur akar putih, Gadoderma, Phytium.
Penemuaan ini telah membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah cengkeh sebagai pestisida nabati yang ramah terhadap lingkungan. Senyawa eugenol dapat diperoleh dari daun kering, gagang dan bunga cengkeh.
Untuk aplikasi dilapangan telah ditemukan formula dalam bentuk cair dan tepung yang dikenal dengan nama MITOL 20EC dan MITOL 20 EC. Formula telah dikomersialkan oleh CV. Meori Agro dalam kemasan 250 ml, 250 g, 1000 ml, 1000g.
Uji lapang menunjukkan bahwa efektifitas fungisida Mitol 20 EC tidak kalah dengan fungisida kimiawi berbahan aktif mankozeb dan keunggulannya adalah ramah lingkungan silahkan coba.
Pengalaman Pengguna Tentang Daya Hasil Bio-TRIBA
Kami menerima sebuah testimoni dari pengguna bio-TRIBA pada lada perdu.
Melalui surat ini saya ingin menyampaikan bahwabeberapa waktu yang lalu pada saat saya mengikuti On The Job Training tentang perbanyakan lada perdu, untuk media pembibitan diberikan materi pembuatan pupuk Bio-TRIBA. Setelah saya praktekkan dan amati hasilnya ternyata memberikan dampak positif terhadap bibit lada perdu, karena terbebas dari serangan jamur.
Pesan ini disampaikan oleh Bapak Bambang Budianto, di Balai Latihan Kerja Pertanian Klampok, Banjarnegar
Melalui surat ini saya ingin menyampaikan bahwabeberapa waktu yang lalu pada saat saya mengikuti On The Job Training tentang perbanyakan lada perdu, untuk media pembibitan diberikan materi pembuatan pupuk Bio-TRIBA. Setelah saya praktekkan dan amati hasilnya ternyata memberikan dampak positif terhadap bibit lada perdu, karena terbebas dari serangan jamur.
Pesan ini disampaikan oleh Bapak Bambang Budianto, di Balai Latihan Kerja Pertanian Klampok, Banjarnegar
DAYA HAMBAT SENYAWA KIMIA ASAL BIOTA LAUT TERHADAP Fusarium oxysporum f.sp. vanilla PENYEBAB BUSUK BATANG VANILI

Pemanfaatan biota laut untuk bahan fungisida organik memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Fungisida organik ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap fungisida sintetik yang banyak digunakan dalam budidaya vanili. Penggunaan fungisida sintetik umumnya merugikan lignkungan sehingga tidak mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan penyakit busuk batang vanili secara efektif dan aman dengan menggunakan biota laut.
Sampel penelitian dikoleksi dari daerah pasang surut dan pada kedalaman 1 sampai 7 meter saat air laut surut di tujuh pantai di Bali. Identifikasi biota laut dilakukan dengan mencocokan ciri-ciri sampel dengan gambar pada buku identifikasi dan sebagian dilakukan oleh staf Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta.
Daya hambat ekstrak in vitro terhadap Fusarium oxysporum f.sp. vanillae ditentukan dengan metode difusi sumur pada media AKD dan NB. Pengaruh ekstrak in vivo dilakukan pada tanah endemik penyakit dan tanah steril yang diinokulasi patogen di rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan 3 ulangan.
Skrining senyawa aktif menggunakan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom yang dipandu uji hayati. Struktur senyawa kimia aktif ditentukan dengan kromatografi gas-spektroskopi massa dan spektrofotometri infra merah.
Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak metanol biota laut Aglaophenia sp. mampu secara efektif menekan patogen F. oxysporum f.sp. vanillae dan perkembangan penyakit busuk batang vanili dengan nilai konsentrasi hambat minimum (MIC) 0.05 persen.
Ekstrak ini mampu menekan pertumbuhan koloni jamur, jumlah konidia, jumlah koloni tumbuh, berat kering miselia, protein miselia, aktivitas enzim, jumlah inokulum patogen dalam tanah, dan persentase busuk batang vanili, namun dapat meningkatkan produksi asam fusarat patogen. Busuk batang vanili pada tanah endemik dapat ditekan 100 persen dengan aplikasi ekstrak konsentrasi 0.30 persen. Senyawa kimia antijamur dalam ekstrak tersebut diduga mono(2-etilheksil) ftalat (Dr.Ir I KETUT SUADA ).
Langganan:
Postingan (Atom)