Jumat, 05 Februari 2010

PAKAI BIO-TRIBA, PADI LEBIH SUBUR, HEMAT PUPUK DAN PRODUKSI TINGGI

Penggunaan bio-triba pada padi memberikan hasil yang luar biasa . Bapak H. Endang membuktikan hal tersebut. Petani asal Karawang tersebut mengaplikasikan Bio-Triba pada pertanam di atas 2 lahannya masing-masing seluas 2 dan 2,5 ha. Dan hasilnya cukup mengembirakan.

Ia coba menggunakan Bio-TRIBA dengan cara disempot. Ia tetap menggunakan NPK dan Urea seluruhnya namun hanya sebanyak 2 kuintal .

Dan hasilnya cukup mengembirakan. Ia mendapati anakan menjadi lebih banyak sekitar 30 anakan. Sedangkan jika tanpa perlakuan (Bio-TRIBA) , sekitar 20 anakan.

Pada pertanaman tidak dijumpai adanya serangan hama tikus. Berbeda ketika ia melakukan penanaman tanpa perlakuan.

Gambar. Tanaman Padi yang Tumbuh Subur dengan Aplikasi Bio-TRIBA

Tanaman terlihat lebih tinggi, rapat dan kekar / tidak rebah. Dan hasil panen sementara dengan luas 5 m x 5 m adalah 31 kg basah atau diperkirakan bisa mencapai 12,400 ton gabah basah/ha.

Hal ini sungguh mengejutkan baginya. Berdasarkan pengakuannya baru kali ini ia melihat sebuah manfaat luar biasa dari penggunaan formula tambahan selain pupuk.

Namun yang sungguhnya mengherankan, bagaimana penggunaan Bio-TRIBA bisa mengurangi penggunaan pupuk namun hasil produksinya bisa lebih tinggi. JIka tanpa perlakuan ia membutuhkan pupuk NPK dan urea sebanyak 3 kuintal. Tentu ini adalah salah satu keunggulan formula yang mengandung mikroorganisme tersebut.

Oleh sebab itu pengalaman Bapak H. Endang membuktikan Bio-TRIBA secara handal bisa diaplikasikan pada tanaman padi. Selain bisa menghemat pupuk, mempercepat pertumbuhan juga dapat meningkatkan produksi.

Senin, 18 Januari 2010

BUKU KOMPOS BIOPESTISIDA


Anda ingin memproduksi kompos sendiri?

Buku ini layak Anda baca. Namun bukan “ Kompos biasa” melainkan kompos yang bisa berfungsi sebagai biopestisida yang disebut BioTRIBA

Pada dasarnya BioTRIBa adalah kompos yang dihasilkan dengan memanfaatkan mikoorganisme yang mampu meningkatkan daya fungsi dan hasil dari BioTRIBA. BioTRIBA tidak hanya mampu menyuburkan tanah dan tanaman, meningkatkan hasil tanaman, namun juga bisa memberantas patogen-patogen tanaman yang berbahaya.

Disamping penggunaan cenderung lebih hemat dan efesiensi dibandingkan dengan penggunaan kompos biasa ataupun pupuk kandang, pembuatannya pun relatif mudah dan murah.

Buku ini Anda adalah komitmen kami untuk menyebarkan luas Pengetahuan bermanfaat, tidak hanya melalui blog juga melalui buku. Dan para pembaca tidak hanya memahami namun juga kemudian memproduksi pupuk kompos bermanfaat ini secara mandiri.

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, dsb.

Minggu, 20 Desember 2009

CENGKEH : TANAMAN PESTISIDA NABATI YANG POTENSIAL


Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh dengan baik di hampir seluruh propinsi di Indonesia, terutama di Sulawesi dan Maluku. Sampai saat luas arel pertanaman cengkeh di Indonesia diperkirakan sekitar 200.000 ha. Cengkeh terutama banyak digunakan untuk Industry rokok dan minyak atsiri.

Potensi lain adalah bahwa suatu senyawa yang terdapat dalam ekstrak tanaman ini yaitu eugenol dan eugenol asetat ternyata dapat bersifat anti fungal terhadap pathogen penyakit yang sering menyerang tanaman antara lain, Fusarium, Phytopthora, Sclerotium, Jamur akar putih, Gadoderma, Phytium.

Penemuaan ini telah membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah cengkeh sebagai pestisida nabati yang ramah terhadap lingkungan. Senyawa eugenol dapat diperoleh dari daun kering, gagang dan bunga cengkeh.

Untuk aplikasi dilapangan telah ditemukan formula dalam bentuk cair dan tepung yang dikenal dengan nama MITOL 20EC dan MITOL 20 EC. Formula telah dikomersialkan oleh CV. Meori Agro dalam kemasan 250 ml, 250 g, 1000 ml, 1000g.

Uji lapang menunjukkan bahwa efektifitas fungisida Mitol 20 EC tidak kalah dengan fungisida kimiawi berbahan aktif mankozeb dan keunggulannya adalah ramah lingkungan silahkan coba.

Senin, 30 November 2009

Pengalaman Pengguna Tentang Daya Hasil Bio-TRIBA

Kami menerima sebuah testimoni dari pengguna bio-TRIBA pada lada perdu.

Melalui surat ini saya ingin menyampaikan bahwabeberapa waktu yang lalu pada saat saya mengikuti On The Job Training tentang perbanyakan lada perdu, untuk media pembibitan diberikan materi pembuatan pupuk Bio-TRIBA. Setelah saya praktekkan dan amati hasilnya ternyata memberikan dampak positif terhadap bibit lada perdu, karena terbebas dari serangan jamur.

Pesan ini disampaikan oleh Bapak Bambang Budianto, di Balai Latihan Kerja Pertanian Klampok, Banjarnegar

Selasa, 03 November 2009

DAYA HAMBAT SENYAWA KIMIA ASAL BIOTA LAUT TERHADAP Fusarium oxysporum f.sp. vanilla PENYEBAB BUSUK BATANG VANILI


Pemanfaatan biota laut untuk bahan fungisida organik memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Fungisida organik ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap fungisida sintetik yang banyak digunakan dalam budidaya vanili. Penggunaan fungisida sintetik umumnya merugikan lignkungan sehingga tidak mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan penyakit busuk batang vanili secara efektif dan aman dengan menggunakan biota laut.

Sampel penelitian dikoleksi dari daerah pasang surut dan pada kedalaman 1 sampai 7 meter saat air laut surut di tujuh pantai di Bali. Identifikasi biota laut dilakukan dengan mencocokan ciri-ciri sampel dengan gambar pada buku identifikasi dan sebagian dilakukan oleh staf Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta.

Daya hambat ekstrak in vitro terhadap Fusarium oxysporum f.sp. vanillae ditentukan dengan metode difusi sumur pada media AKD dan NB. Pengaruh ekstrak in vivo dilakukan pada tanah endemik penyakit dan tanah steril yang diinokulasi patogen di rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan 3 ulangan.

Skrining senyawa aktif menggunakan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom yang dipandu uji hayati. Struktur senyawa kimia aktif ditentukan dengan kromatografi gas-spektroskopi massa dan spektrofotometri infra merah.

Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak metanol biota laut Aglaophenia sp. mampu secara efektif menekan patogen F. oxysporum f.sp. vanillae dan perkembangan penyakit busuk batang vanili dengan nilai konsentrasi hambat minimum (MIC) 0.05 persen.

Ekstrak ini mampu menekan pertumbuhan koloni jamur, jumlah konidia, jumlah koloni tumbuh, berat kering miselia, protein miselia, aktivitas enzim, jumlah inokulum patogen dalam tanah, dan persentase busuk batang vanili, namun dapat meningkatkan produksi asam fusarat patogen. Busuk batang vanili pada tanah endemik dapat ditekan 100 persen dengan aplikasi ekstrak konsentrasi 0.30 persen. Senyawa kimia antijamur dalam ekstrak tersebut diduga mono(2-etilheksil) ftalat (Dr.Ir I KETUT SUADA ).

Minggu, 25 Oktober 2009

PERANAN MIKROORGANSME SERBAGUNA DALAM PERTANIAN BERKELANJUTAN


Dunia pertanian saat ini dibebani oleh suatu tuntutan mendesak yaitu memenuhi kebutuhan pangan penduduk seluruh dunia. Sebagai usaha untuk mengatasi hal tersebut telah menjadi tuntutan bahwa usaha pertanian harus dapat memproduksi dalam jumlah yang cukup atau dapat melebihi kebutuhan dalam negeri sehingga dengan demikian dapat berperan sebagai penghasil devisa.

Untuk mencapai produksi tinggi berbagai asupan sarana produksi seperti pupuk, hormon untuk pertumbuhan atau pestisida banyak digunakan dalam usaha pertaniaan. Namun selain mahal, penggunaan sarana produksi tersebut seringkali dapat menimbulkan dampak negative. Untuk hal tersebut maka perlu dicari alternatif teknologi yang murah, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik. Daerah sekitar perakaran (Rhizosphere) mempunyai kandungan nutrisi yang kaya karena kira-kira 40% hasil photosintesis hilang melalui akar. Hal tersebut menyebabkan banyaknya populasi mikroba sekitar rhizosphere. Sejumlah bakteri pada sekitar perakaran (Rhizobacteria) telah dilaporkan dalam berbagai hasil penelitian dapat berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman, menghasilkan hormon (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria, PGPR).

PGPR pertama kali dilaporkan oleh Joseph W. Kloepper dan Milton N. Scoth yang selain rhizobacteria juga termasuk bakteri tanah yang mengkolonisasi perakaran dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pada saat ini pengertian PGPR tidak hanya pada kelompok Bakteri tetapi juga pada kelompok Jamur sehinngga semakin meluas pengertian mengenai mikroorganisme pemacu pertum,buhan ; termasuk mikroba yang digunakan dalam pengendaliaan hayati (biocontrol), penyedia nutrisi (biofertilization) dan produksi hormon (Biostimulation).

Beberapa mikoorganisme telah dilaporkan mempunyai fungsi seperti telah digunakan dalam paket Teknologi BioFOB. seperti Bacilluis pantotkenticus, Trichoderma lactae dan Fusarium oxysporum non patogenik

Jumat, 25 September 2009

PUPUK HAYATI P


Program intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produksi telah berdampak pada terhadap lingkungan yaitu; residu logam berat dari pestisida, bahan organic menurun populasi mikroorganisme berguna dalam tanah dan terjadi pengerasan tanah, akibatnya pemakaian pupuk kimia dari tahun ke tahun meningkat.

Studi kasus pada tanaman padi kebutuhan pupuk Urea, TSP dan KCL telah meningkat 4 – 6 kali sejak mulai program Bimas 30 tahun lalu. Untuk mengatasi masalah itu adalah dengan menggunakan pupuk hayati yang dikombinasi dengan pupuk organik. Mikroba tanah dapat berperanan dalam proses pelarutan mineral-mineral

Pupuk Hayati pelarut P
Reaksi yang terrjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat, yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat, yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut.

Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik, atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Percobaan menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan, hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah, kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah.

Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi : asam alifatik sederhana, asam amino dan asam fenolik. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa, asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum) sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam).

Asam-asam organik tersebut antara lain : laktat, glikolat, suksinat, alfa ketoglutarat, asetat, sitrat, malat, glukonat, oksalat, butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikroba, merupakan bentuk antara (transisi).

Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10mm, namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintarat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgikan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.

Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah : asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat = asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca, Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.

Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh : (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah, (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral, (3) tingkat dissosiasi asam organik, (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik, (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah.

Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri, jamur dan aktinomisetes. Dari golongan bakteri antara lain : Bacillus firmus, B. subtilis, B. cereus, B. licheniformis, B. polymixa, B. megatherium, Arthrobacter, Pseudomonas, Achromobacter, Flavobacterium, Micrococus dan Mycobacterium. Dari golongan jamur antara lain : Aspergillus niger, A. candidus, Fusarium, Penicillium, Schlerotium dan Phialotobus.

Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2, FePO4, AlPO4, apatit, batuan P dan komponen P anorganik lainnya sebagai sumber P. Jamur Aspergillus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setetah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.