Sebanyak 12 petani berprestasi Sumatera Utara masing-masing 10 petani dari Kabupaten Karo, 1dari Kabupaten Simalungun dan 1 dari Kabupaten Samosir tiba di Bandara Internasional Polonia Medan, Minggu (25/5).
Para petani ini tiba setelah mengikuti pelatihan Magang Pemanfaatan Teknologi Bio-Fob dan Budidaya Tanaman Ramah Lingkungan, 23-25 Mei di Balitro Departemen Pertanian, Bogor Jawa Barat.
Koordinator tim Rombongan Daniel Sembiring dalam jumpa pers di Medan mengatakan, pengalaman dan pengetahuan dari pelatihan pemanfaatan Teknologi Bio Fob akan langsung dipraktikkan di lapangan, khususnya dalam pembuatan pupuk kompos organik.
Selain itu, katanya, pengetahuan di bidang teknologi pembudidayaan tanaman ramah lingkungan akan ditularkan kepada para petani Karo. "Kita akan berikan pengetahuan bagaimana menciptakan bibit tanaman yang sehat dan pembuatan pupuk kompos organik," katanya.
Salah seorang peserta pelatihan Rinton Karo Sekali SP MSi mengaku terkesan dengan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan di Badan Penelitian Rempah-rempah dan Obat (Balitro) Bogor.
Menurut dia, metode yang diajarkan para pakar pertanian yang rata-rata bergelar doktor itu sangat membantu dalam pembudidayaan tanaman hortikultura yang selama ini masih menggunakan cara lama sehingga kesuburan tanaman sulit dijamin dan tidak berkembang.
Dalam pelatihan itu, kata dia, petani diberi bekal pengetahuan teknologi Bio-Triba dan Bio-Fob yang sangat penting untuk mengendalikan penyakit sekaligus untuk menyuburkan dan menciptakan kekebalan tanaman.
Bio Triba misalnya, selain sebagai pengendali hayati juga mengendalikan penyakit dan menyuburkan tanah, "Sekarang ini Bio Fob sudah dibuat dalam bentuk kemasan dan sudah mendapat hak paten. Bio Fob ini dimasukkan ke tanaman melalui pupuk kompos dan tanaman akan bereaksi membentuk kekebalan terhadap penyakit," kata Rinton.
Ia mengaku, banyak manfaat jika metode tekonologi Bio-Fob digunakan, apalagi saat ini di Tanah Karo harga pupuk jenis NPK terus melambung mencapai Rp 500 ribu per sak. Sementara pupuk bersubsidi dari pemerintah jelas tidak mencukupi bahkan sekarang menghilang di pasaran. " Jadi, untuk menanggulangi kondisi ini kita buat pupuk kompos organik yang diharapkan bisa meningkatkan hasil dan kualitas tanaman hortikultura Tanah Karo," katanya.
Adapun ke 12 petani yang mengikuti pelatihan yakni Agus Suryanta G, Fajar Efendi Ginting, Daniel Sembiring, Bungaran Sitohang, Erwinson Sipayung, Baskita Kaban, Berto, Akumina, Calvin, Eri BB Tarigan dan Rinton Karo Sekali SP MSi (Sumber: Harian Global).
MENJADI MILIARDER DENGAN BERTANI ORGANIK

Seringkali kita mendengar keluhan klasik petani Indonesia, produktivitas hasil panen turun dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat. Ada apa sebenarnya? Bukankah negara kita dikenal dengan sebutan negara agraris?
Dulu, nenek moyang kita bercocok tanam dengan cara sederhana dan belum ada penemuan teknologi pertanian seperti zaman sekarang. Tapi, kenapa mereka bisa menjadikan negeri ini kaya raya, sehingga banyak bangsa lain tergoda menjajahnya? Ada yang salah dengan teknologi pertanian kita!
Ketergantungan pada penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia yang semakin mahal harganya menjadikan biaya produksi petani kian meningkat. Awalnya memang menggembirakan. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia menjadikan hasil panen petani berlipat ganda. Segalanya menjadi serba mudah untuk menyiasati kondisi alam yang tidak bersahabat dengan bantuan zat kimia tesebut.
Tetapi, kita tidak sadar bahwa zat kimia ibarat candu bagi kondisi tanah sebagai tempat tinggal tanaman. Sebagai contoh, pemberian dosis 1x untuk mendapatkan hasil panen 2x, pada jangka waktu tertentu akan menjadi pemberian dosis 2x untuk mendapatkan hasil panen 2x.
Karena apa? Zat kimia merusak struktur tanah. Tanah menjadi sakit, sudah tidak ada lagi mikroorganisme hidup di dalamnya yang sebenarnya sangat membantu mempertahankan keseimbangan struktur tanah secara alami.
Lalu, bagaimanakah solusinya? Back to organic. Mulailah mengendalikan penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dengan cara bijaksana. Bila perlu, tinggalkan dan mulai menerapkan kembali pola bercocok tanam nenek moyang kita dahulu dengan teknologi kompos untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Untuk beberapa periode panen, tentunya petani harus siap. Karena, poduktivitas hasil pertanian akan turun karena proses pemulihan struktur tanah.
Dari hasil polling 2 kelompok petani yang berbeda, didapat alasan kenapa petani tidak ingin menggunakan teknologi kompos, 60% tidak yakin dengan efektivitasnya (lamanya waktu pengolahan dari bahan baku sampai dengan siap kompos). Tapi, sebanyak 64% menjawab bahwa pupuk kompos tidak tersedia di lapangan.
Memang betul bahwa dengan cara sederhana, pengolahan kotoran ternak sebagai bahan baku kompos memerlukan waktu 1 bulan sampai siap diberikan pada tanaman. Tidak salah bila budaya petani kita adalah budaya petani yang sangat memerlukan teknologi pertanian yang aplikatif dengan biaya terjangkau. Budaya ini yang akhirnya menjadikan pupuk dan obat-obatan kimia laris manis bak kacang goreng saat awal diterapkannya.
Alangkah baiknya bila ilmuwan dan peneliti kita terus tertantang untuk menemukan teknologi pertanian yang aplikatif dengan biaya terjangkau serta bersifat organik. Seperti yang telah dilakukan oleh Dr. Ir. Mesak Tombe, peneliti utama dari Balai Tanaman Obat dan Aromatika, Bogor.
Hasil penemuan doktor lulusan Jepang ini telah membantu petani untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian berupa teknologi bio triba yang sangat bermanfaat dalam pengolahan kompos organik.
Teknologi bio triba sangat membantu dalam proses penguraian limbah menjadi kompos melalui bantuan mikroorganisme secara terkendali. Mikroorganisme tersebut tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, namun dapat pula mengendalikan patogen pada tanaman dengan Trichodherma dan Bacillus.
Hasil Penelitian pada Tanaman Jagung:
1. Tanpa kompos dan tanpa Bio Triba, produksinya 2,28 ton per ha
2. Kompos namun Tanpa Bio Triba, produksinya 5,04 ton per ha
3. Kompos dan Bio Triba, produksinya 5,58 ton per ha
Hasil Penelitian pada Tanaman Bawang Merah:
1. Tanpa kompos dan tanpa Bio Triba, produksinya 14,83 ton per ha
2. Kompos namun Tanpa Bio Triba, produksinya 21,14 ton per ha
3. Kompos dan Bio Triba, produksinya 23,97 ton per ha
Hasil Penelitian pada Tanaman Petsai:
1.Tanpa Kompos dan Tanpa Bio Triba Produksi 3,42 ton per ha
2.Kompos namun Tanpa Bio Triba Produksi 8,79 ton per ha
3. Kompos dan Bio Triba, produksinya 12,29 ton per ha
Harga Produk Pertanian Organik Lebih Tinggi
Berita menarik, pasar produk pertanian organik memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan produk non-organik di pasar konvensional. Rata-rata harganya sekitar 100–300 persen lebih mahal dibanding produk pertanian non-organik. Hal ini amatlah wajar. Produsen pertanian organik di dunia masih belum banyak.
Di negara tetangga kita Singapura misalnya, diperkirakan lebih dari 50 ribu konsumen membelanjakan US$ 5 juta untuk produk pertanian organik. Australia dan Selandia Baru merupakan pemasok rutin ke negara Singa tersebut. GNP (gross national product) Singapura yang mencapai USD 95,5 miliar telah menjadikan negeri ini sebagai pasar
organik yang menjanjikan!
Tidak hanya sayuran dan buah-buahan, pasar organik rempah di luar negeri pun terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Produk rempah organik yang sudah menjadi primadona pilihan antara lain: lada merah, temu lawak, vanili, dan kayu Manis. Kita ambil contoh harga kayu manis, kualitas terbaik di Indonesia hanya
dihargai Rp2.600 s.d Rp5.000 per kg. Bandingkan di Eropa yang dihargai Rp25.000 s.d Rp28.000 per kg.
Kendala yang mungkin harus kita upayakan solusinya bilamana ingin membidik potensi ekspor produk pertanian organik tidak lain adalah mahalnya biaya sertifikasi. Seperti yang kita ketahui, mayoritas petani Indonesia adalah bermodal kecil dan berlahan sempit. Namun, hal ini tidaklah menjadi masalah bila petani dalam satu wilayah atau daerah dapat berkoordinasi untuk melakukan sertifikasi berupa bentuk kelompok.
Tentunya harus ada upaya kerjasama tidak hanya melibatkan koordinasi antarpetani. Peran Pemerintah dan sektor swasta amat dibutuhkan dalam hal ini, baik sebagai penyedia sumber permodalan maupun pembuka akses pasar.
Bertani organik juga perlu kesabaran serius. Awalnya petani akan dikagetkan dengan hasil produksi yang menurun secara drastis pascaperalihan dari pertanian konvensional menuju organik. Regulasi terbaru standar pertanian organik Eropa, perlu waktu 3 tahun pemeriksaan untuk produsen di negara berkembang yang akan memasuki pasar organik Eropa sebelum dinyatakan lulus sertifikasi. Lalu, selama 3 tahun tersebut, produk pertanian bersangkutan hanya dinyatakan produk konvensional atau non-organik.
Kombinasi usaha peternakan dan pertanian juga amat dianjurkan dalam melakukan budidaya pertanian organik. Ketersediaan bahan baku pupuk akan lebih mudah didapatkan dengan adanya produksi kotoran ternak yang kita pelihara.
Tidak hanya itu, daging hewan ternak dapat menjadi sumber penghasilan tambahan sebelum kita menunggu hasil panen pertanian organik dan menjadi miliarder petani organik Indonesia! Salam Organik! (Agus Ramada S, Direktur Utama Eka Agro Rama )
KEAJAIBAN ORGANO-TRIBA DAN MITOL 20EC
Gambar dibawah ini merupakan hasil penelitian dari Bapak Mesakh Tombe, yang menunjukkan bagaimana efektifnya kerja Organo-Triba dan Mitol 20EC pada tanaman jambu mente.

1) Kondisi tanaman jambu mente yang terserang penyakit JAP 2 tahun setelah di beri perlakuan Organo-Triba dan Mitol 20EC. Produksi meningkat dari 0,33kg (sebelum perlakuan) glondong/phn menjadi 2-2,2kg glondong/phn (2 tahun setelah perlakuan).
2) Keadaan tanaman jambu mente terserang JAP yang tidak mendapat aplikasi OrganoTriba dan MITOL 20EC (Kontrol) , 2 tahun kemudiaan produksi sudah menurun dari 0,33kg glondong/phn menjadi 0,16 kg glondong/phn

1) Kondisi tanaman jambu mente yang terserang penyakit JAP 2 tahun setelah di beri perlakuan Organo-Triba dan Mitol 20EC. Produksi meningkat dari 0,33kg (sebelum perlakuan) glondong/phn menjadi 2-2,2kg glondong/phn (2 tahun setelah perlakuan).
2) Keadaan tanaman jambu mente terserang JAP yang tidak mendapat aplikasi OrganoTriba dan MITOL 20EC (Kontrol) , 2 tahun kemudiaan produksi sudah menurun dari 0,33kg glondong/phn menjadi 0,16 kg glondong/phn
PROTOKOL TEKNIK PRODUKSI BIBIT Bio-FOB
SUKSES APLIKASI TEKNOLOGI BIO-FOB PADA TANAMAN TEMBAKAU
UJI COBA ORGANO TRIBA PADA TANAMAN PETSAI
SPECIFICATION OF OUR TECHNOLOGY COMPONENTS

1.Seedling of Bio-FOB vanilla. Free and tolerant seedling to FR that is produced by using non-pathogenic Fusarium oxysporum (FoNP). This microbe has function to induce system of vanilla resistance to FR and stimulates rooting. This microorganism is isolated from rhizosphere and plant tissue of healthy vanilla. Results of pathogenicity test and analysis of VCG (Vegetatif Compatibility Group) showed that isolate is not pathogenic to vanilla plant. FoNP has a lot of been reported can induce system of plant resistance by the increase of activity several certain enzymes in system of plant metabolism namely β-1,4 glucosidae, β-1,3-glucanase and chitinase. The amount of 15 isolates of FoNP has been succesfully isolated and purifed and one of isolates i.e. FoNP strain F10-AM consistently produce high effectivity. That strain then used to produce 3 kinds of FoNP formula, Bio-FOB EC (liquid), Bio-FOBWP (powder), Organic-FOB (organic materials).
2. Bio-TRIBA. Formula in the form of liquid contains two kinds of microorganism namely B. pantotkenticus and T. lactae. Solution can be used as biodecomposer of organic waste and biofungicide for control of plant pathogen and can be mixed with organic fertiliser in its application.
a.Bacillus pantotkenticus. This microbe was found and isolated from rhizosphere of maize plantation, it has not been reported in Indonesia. B. Pantotkenticus can stimulate rooting, biodecomposer of raw organic waste and produces antibiotic during decomposition process of organic material and functions as biological agent that will protect rooting system and survives in plant rhizosphere. In vitro test showed that this isolate can inhibit growth of several kinds of soil dwelling pathogens among others R. lignosus, R. solani, F. oxysporum, F. solani, Pythium and S. rolfsii. One of species of Bacillus has been reported in Brazil can increase production of wheat up to 105% by stimulates system of plant rooting.
b.Trichoderma lactae. This microorganism was encountered and isolated from rhizosphere of cashew plantation. T. lactae can decompose raw organic waste to be high quality. T. lactae can inhibit the growth of several pathogenic fungi on plant among others R. lignosus R. solani, F. oxysporum, F. solani, Pythium and S. rolfsii is included the cause of FR disease on vanilla.
3. Botanical Fungicide of Mitol 20 EC. Formula that contains active ingredients of eugenol and citrat that were extracted from clove and citronella plants. This compound of eugenol from clove is toxic to several plant pathogens among other R. lignisus, R. solani, F. oxysporum, F. solani,Pythium and S. rolfsi is included pathogen the cause of FR and contaminant fungi on post harvest such as Aspergillus and Penicillium the disease of vanilla FR.
4. Organo-TRIBA. Compost that is processed from selected organic waste from experiment results by using Bio-TRIBA and Proti II as biodecomposer. Organo TRIBA contains several useful microorganisms among others Bacillus, Trichoderma, P. fluorescens and Penicillium. Those microorganisms have roles of the increase of health and plant production. Extract of organo-TRIBA compost can be pesticidal on several fungi of soil borne pathogen.
Langganan:
Postingan (Atom)


