TEKNOLOGI BIO FOB DAN VANILI ORGANIK


Teknologi Bio-FOB adalah inovasi baru, memperkenalkan peranan mikroorganisme dan ekstra tanaman (metabolisme sekunder) dalam budidaya tanaman yang berorientasi organik farming dan ramah lingkungan. Mikroorganisme yang digunakan berperan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit (induksi ketahanan) dan produktivitas tanaman. Teknologi ini mulai dikaji pada tanaman vanili pada tahun 1990 dengan mengoleksi dan mengevaluasi potensi beberapa mikroorganisme berguna seperti Fusarium oxysporum non patogenik, Bacillus, Trichoderma, Penicillium dan Pseudomonas flourescens serta ekstrak tanaman.

Sejak tahun 2001 teknologi ini mulai diluncurkan dan dikembangkan secara luas pada tanaman vanili. Teknologi Bio-FOB menggunakan 3 jenis mikroorganisme yaitu Fusarium oxysporum non patogenik Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae serta ekstrak tanaman cengkeh sehingga dasar pengembangannya berorinetasi pada budaya tanaman organik. Dalam budidaya tanaman vanili dengan teknologi Bio-FOB tidak menggunakan pupuk anorganik dan pestisida sintetik. Dalam beberapa kajian menunjukkan teknologi Bio-FOB dapat digunakan pada tanaman lain terutama Bio-TRIBA, Organo-TRIBA dan Mitol 20 EC seperti pada tanaman jambu mente, lada, coklat, kopi dan tanaman sayuran.

Bibit Bio-FOB, dapat digunakan pada kebun yang belum pernah dan sudah pernah ditanami vanili atau kebun yang pernah terserang BBV. Bibit siap tanam adalah yang telah bertunas (3 - 5 daun) apabila lebih dari itu tanaman cepat patah didalam pengangkutan. Sebelum bibit dibawa kelapangan terlebih dahulu disiapkan tanaman pelindung, karena bibit vanili sangat sensitif terhadap cahaya matahari dan hujan yang terus menerus. Proses produksi bibit vanili Bio-FOB memerlukan waktu ± 3 bulan, sehingga apabila bibit akan ditanam pada bulan Oktober – Desember maka produksi bibit dilakukan antara bulan Juli - September.

Bio-TRIBA, digunakan untuk mengendalikan penyakit BBV dan busuk sklerotium. Digunakan untuk pembuatan kompos yang bermutu, limbah organik (hewan, pasar, rumah tangga dan pertanian). Dosis yang digunakan adalah 1 ton limbah organik digunakan 2 - 3 lt Bio-TRIBA. Untuk mempercepat proses dekomposisi sebaiknya limbah organik dicacah terlebih dahulu. Dicampur langsung dengan pupuk kandang / kompos. 1 ton pupuk kandang dapat dicampur 2 - 3 lt Bio-TRIBA dan diinkubasikan 1 - 2 minggu sebelum digunakan. Disiram langsung pada daerah sekitar perakaran dengan dosis 5 – 10 ml/lt air, sebaiknya diberikan setelah pemberian pupuk organik.

Sama halnya dengan bibit unggul lainnya, bibit vanili Bio-FOB agar dapat berhasil dengan baik memerlukan persyaratan tumbuh minimal sebagai berikut :

Tanaman vanili sangat sensitif terhadap cahaya matahari langsung. Intensitas cahaya optimal untuk pertumbuhan normal adalah ± 35%, terlalu banyak cahaya akan merusak tanaman dan pertumbuhan akan terhambat. Sehingga dalam mempersiapkan penanaman, tanaman pelindung harus (MUTLAK) siap terlebih dahulu dengan peraturan cahaya seperti diatas. Gejala kelebihan intensitas cahaya sinar matahari sering diasosiasikan penyakit BBV padahal bukan.

Akar tanaman vanili sangat sensitif terhadap genangan air, sehingga untuk lahan penanaman dipilih yang tidak tergenang air atau diusahakan agar tanaman tidak terendam air. Gejala busuk akar/pangkal batang akibat genangan air sering diasosiasikan oleh BBV padahal bukan. Dalam kondisi tanaman seperti itu akan mudah diserang patogen penyakit termasuk BBV.

Tanaman vanili sangat sensitif terhadap kekeringan, sehingga lahan yang dipilih adalah yang dekat dengan sumber air terutama pada waktu musim kemarau. Kekeringan akan menyebabkan akar rusak sehingga pangkal batang akan terputus. Apabila tidak segera dibantu dengan air maka tanaman akan mati. Gejala kerusakan tanaman akibat kekurangan air karena tidak disiram selama kemarau sering diasosiasikan BBV padahal bukan.

Tanaman vanili memerlukan musim kemarau yang tegas untuk merangsang pembungaan. Pembungaan akan lebih baik jika tanaman tersebut cukup air dengan penyiraman.


Ketinggian tempat berkisar 50 – 800 m dpl, dan tidak berawan terutama pada musim kemarau, agar pembungaan dapat optimal.

Petunjuk penanaman dan peliharaan tanaman supaya diikuti dengan baik, agar tingkat keberhasilannya tinggi (sumber: ORGANIC INDONESIAN VANILLA) .

MARI BERTANI SEHAT


Upaya sosialisasi akan bahaya penggunaan pestisida, fungisida dan insektisida kimia dalam pola bercocok tanam organik dan bertani sehat adalah ibarat perjuangan kemerdekaan yang jangan sampai pernah ada habisnya.

Terlepas pada kenyataan lapangan sebenarnya bila masih terdapat petani yang belum sepenuhnya sadar betul akan bahaya kimia sintetis yang terkandung dalam obat-obatan buatan pabrik ini, namun tuntutan pasar pada suatu saat semoga akan menyadarkan petani bila kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan sangatlah penting untuk kelanjutan hidup di alam semesta ini.

Terlebih bilamana kesejahteraan ekonomi merupakan tujuan akhir dalam budidaya usaha pertanian yang sedang dilakukan, kesadaran konsumen masyarakat dunia seharusnya menjadikan larangan lampu merah untuk aplikasi penggunaan kimia sintetis ini pada produk-produk pertanian yang berorientasi ekspor.

Informasi menarik diperoleh dari situs www.chem-is-try.org yang semoga dapat memberikan motivasi dan semangat bagi para ilmuwan, peneliti, petani dan pelaku budidaya usaha pertanian lainnya dalam memperjuangkan kemerdekaan pola bercocok tanam organik dan bertani sehat, adalah seorang yang bernama Rachel Louise Carson lulusan John Hopkins University di bidang zoology. Ia adalah penulis sebuah buku yang berjudul Silent Spring yang berarti kesunyian dimusim semi.

Seperti yang diceritakan oleh Tatang Sopian seorang staf dinas kehutanan Purwakarta yang saat ini menjadi mahasiswa di Universitas Agri Tech, Tokyo, buku ini mengisahkan tentang alam dimusim semi yang tadinya cerah dan dipenuhi suara burung berkicau dan organisme hidup, tiba-tiba terusik oleh pestisida yang mengakibatkan terbunuhnya mikroorganisme hidup dan mengancam kehidupan manusia.

Penjelasan Rachel dalam buku tersebut sangatlah ilmiah namun dikemas dalam bentuk bahasa keseharian dan sederhana. Buku ini menjadikan tekanan keras bagi Rachel khususnya dari pabrik industri kimia, sampai pada akhirnya Kongres Amerika memanggilnya untuk kemudian berpihak kemenangan bagi Rachel dengan dibentuknya Undang-Undang Nasional Perlindungan Lingkungan di Amerika Serikat pada tahun 1969, NEPA – National Environmental Protection Act.

Perjuangan Rachel tidak sia-sia, kini para peneliti, ilmuwan dan konsume masyarakat dunia mulai bersepakat bila penggunaan kimia sintetis dalam penanggulangan hama dan penyakit tanaman adalah bukan membasmi hama yang bersangkutan dalam waktu singkat, akan tetapi malah akan menyebabkan terjadinya ledakan jumlah populasi hama sebagai akibat kematian musuh alami dari hama bersangkutan tanpa disengaja melalui penggunaan kimia sintetis tersebut.

Artikel menarik pada situs www.suloh.or.id yang ditulis oleh Aras, obat mujarab dan cespleng tampaknya lebih disukai oleh umumnya para pelaku pertanian konvensional. Promosi keampuhan merek suatu pestisida dalam membasmi hama tampaknya sah-sah saja dan wajar untuk diterima. Tanya kenapa?

Padahal, Dr. Ir. Ririen Prihandarini selaku Sekjen Masyarakat Pertanian Organik Indonesia dalam penjelasannya pada situs www.kontan-online.com menyampaikan, pestisida kimia mempunyai masa degradasi yang sangat panjang pada setiap aplikasinya, tidak bisa dalam waktu sekejap untuk menghilangkan residu kimia sintetis dan menetralkannya.

Patut berbahagia bila atmosfer positif mulai dapat dirasakan dalam pola bercocok tanam organik dan bertani sehat di Indonesia. Penggunaan pestisida, insektisida dan fungisida nabati serta pengendalian hama secara terpadu seperti pengaturan jarak tanam, rotasi tanaman dan penggunaan predator dari hama dan penyakit bersangkutan sudah mulai membudaya di kalangan petani cerdas Indonesia walaupun memang belum seluruhnya.

Adalah diperlukan niat, tekad, semangat, kesabaran dan kerja keras dikalangan petani kita untuk mulai menghentikan penggunaan kimia sintetis dan beralih ke nabati. Kegiatan penyuluhan dan bimbingan yang tak kenal henti serta lelah ibarat perjuangan merebut kemerdekaan yang sangat diperlukan.

Sebuah artikel menarik diperoleh dari situs www.kebonkembang.com yang ditulis oleh Mona Sintia, yaitu mengenai ramuan pestisida nabati yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman. Bahan-bahan rempah seperti kunyit, sereh, bawang putih, daun jarak kemudian daun diffen adalah contoh jenis tanaman yang dapat menjadi ramuan pestisida nabati sebagai pengganti ramuan cespleng ala pestisida kimia buatan pabrik. Namun satu hal yang perlu diingat bila khasiat penggunaan pestisida nabati adalah berbeda dengan pestisida kimia. Penggunaan pestisida nabati adalah lebih mengarah kepada upaya mengusir hama dengan menjadikan kondisi tanaman sebagai tempat tinggal yang tidak nyaman bagi hama bersangkutan. Sedangkan penggunaan pestisida kimia adalah menjurus kepada upaya mematikan hama yang ada ditanaman tersebut dimana tanpa disadari akan sekaligus juga membumi hanguskan mahluk hidup lainnya yang tinggal disekitarnya (Cespleng).

Pengenalan jenis tanaman, jenis hama kemudian pengamatan pada kondisi tanaman merupakan syarat kualifikasi bagi petani yang tergolong cerdas dalam penggunaan pestisida nabati. Sebagai contoh semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, penjelasan Mona Sintia dalam artikelnya menyarankan menyemprot air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen dan lainnya. Kemudian misalkan kutu putih pada daun atau batang, siung bawang putih yang ditumbuk kemudian diperas airnya dan dicampur dengan air pada dosis tertentu untuk selanjutnya disemprotkan dapat menjadikan kondisi tidak nyaman bagi hama dimaksud.

Campuran sedikit minyak kelapa juga dapat dipergunakan pada air perasan siung bawang putih. Bahkan buah jengkol pun ternyata bila ditebarkan disekitar tanaman atau pada lubang tikus akan sangat bermanfaat dan membuat jera keberadaan jenis hewan pengerat tersebut. Sungguh amat luar biasa tentunya keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini lengkap dengan segala isinya.

Berita baik untuk petani cerdas di Indonesia saat ini, penggunaan pestisida, insektisida dan fungisida nabati berupa ramuan dari berbagaimacam bahan rempah oleh beberapa ilmuwan dan peneliti tanah air telah diujicobakan dan dikembangkan pula dalam bentuk ekstrak nabati sehingga dalam pengadaan dan aplikasinya akan menjadi jauh lebih mudah dan praktis.

Suatu penemuan yang bermanfaat tentunya dalam menunjang upaya pola bercocok tanam organik dan bertani sehat. Di mana patut berbangga pula bila hutan di Indonesia adalah banyak menyimpan keanekaragaman bahan ekstrak nabati tersebut. Situs www.dinasperkebunanbali.info, ada 500 spesies tanaman yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangan hama (Prijono, 1999), kemudian terdapat 2.400 spesies tanaman yang mengandung senyawa aktif sebagai insektisida (Kardiman, 1999).

Dan di Indonesia, daftar bahan-bahan yang bisa digunakan untuk mengatasi hama dan penyakit secara organik telah diatur berdasarkan SNI 01-6729-2002 antara lain: pestisida jenis Pyrethrins yang diekstrak dari Chysanthenum cinerariaefolium, pestisida Rotenone dari Derris elliptica, Lonchocarpus, Thephrosia sp, rumput laut, tepung rumput laut/ agar-agar, ekstrak rumput laut, garam laut dan air laut, teh tembakau (kecuali nikotin murni), pestisida nabati (tidak termasuk tembakau), garam tembaga dan belerang yang informasi lengkapnya dapat diperoleh melalui situs www.bsn.or.id.

Adapun salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang telah berhasil menemukan ektraks nabati tersebut antara lain adalah, Dr. Ir. Mesak Tombe, peneliti utama dari Balai Tanaman Obat dan Aromatika – Bogor, Indonesia, penemuan doktor murah senyum lulusan Jepang ini antara lain fungisida nabati produk cengkeh yang diketahui bila limbah cengkeh seperti daun dan gagang mengandung senyawa eugenol yang toksik terhadap beberapa patogen tanah seperti F.oxysporum, F.solani, R.lignosus, R.solani, P.capsici dan S.rolfsii. Penemuan beliau telah dipatenkan berupa teknologi Mitol 20 EC yang mengandung eugenol 20% dan sitral 1% dari ekstrak daun dan gagang atau bunga cengkeh dan sereh.

Teknologi ini juga sangat membantu untuk meningkatkan produktivitas tanaman menjadi 2,5 kali lipat antara lain pada Jambu Mete. Teknologi lainnya yang ditemukan Dr. Ir. Mesak Tombe disamping Mitol 20 EC dan juga sudah dikenal di Indonesia bahkan manca negara adalah Bio FOB dan Bio TRIBA.

Semoga informasi ini dapat memompa semangat, tekad dan kerja keras para petani cerdas di Indonesia, peneliti, ilmuwan dan pelaku usaha pertanian organik lainnya, di mana penggunaan pestisida, fungisida dan insektisida nabati dalam pola bercocok tanam organik dan bertani sehat adalah bentuk kesadaran terhadap kesehatan manusia serta kelestarian lingkungan.

Kalaupun masih ada petani yang menjadikan ertimbangan dan alasan nilai ekonomis sebagai dasar tujuan penggunaan pestisida, fungsida dan insektisida kimia, adalah suatu kesalahan besar di mana tidak sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan kebutuhan pasar saat ini. Salam Bertani Sehat!(Agus Ramada Setiadi – Eka Agro Rama)

DELAPAN ALASAN MENGAPA ANDA PERLU MENGGUNAKAN VANILI BIO-FOB


Bagi Anda pencinta tanaman vanili, khususnya yang ingin mendapatkan tanaman vanili yang berproduksi tinggi, ini adalah saatnya Anda menggunakan bibit Vanili Bio-fob. Setidaknya dari hasil di lapangan ada 8 alasan mengapa Anda perlu penggunaan bibit vanili bio-fob, yakni:

1) Dengan menggunakan bibit yg diinduksi Fo.NP, tanaman menjadi bebas dan relatif toleran terhadap busuk batang. Merupakan penyakit dominan pada tanaman vanili dan cukup merugikan.

2) Teknik produksi bibit Bio-FOB dapat dilaksanakan langsung di daerah pengembangan, sehingga dapat menghemat biaya pengangkutan.

3) Selama pemeliharaan menggunakan 3 macam mikroba yg berfungsi untuk meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan tanaman.

4) Budidaya panili Bio-FOB tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi. Sehingga sangat cocok untuk Anda ingin mengembangkan pertanian organik.

5) Sarana produksi yg digunakan 100% asli Indonesia. Wow, ternyata ini adalah hasil anak bangsa, kalau ada produk dalam negeri mengapa beli produk asing.

6) Menghasil polong panili organik yang nilai jualnya akan lebih tinggi dibanding panili biasa.

7) Kadar vanillin 2,25 – 2,57%

8) Ada indikasi Bio-FOB dapat berproduksi 2 tahun setelah tanam, berarti lebih cepat 1 tahun dibanding panili biasa.

Sangat menarik bukan? Oleh sebab tidak ada salahnya mencoba bibit vanili Bio-FOB yang kualitasnya sudah terjamin dan pasti akan menguntungkan Anda.

TECHNOLOGY OF Bio-FOB


Technology of Bio-FOB is a new innovation, introduces the role of microorganism and plant extract (secondary metabolite) in plant cultivation that orientes organic farming and environmentally friendly. Microorganisms used have a role to increase plant resistance to disease (induction of resistance) and productivity of plant.

This technology started to be investigated on vanilla plant since 1990 by collecting and evaluating the potency of several useful microorganisms such as Fusarium oxysporum non-pathogenic, Bacillus, Trichoderma, Penicilium and Pseudomonas fluorescens and plant extract. Since 2001 this technology has started to be launched and developed widely on vanilla plant.

Technology of Bio-FOB uses 3 kinds of microorganisms namely non-pathogenic F. Oxysporum and plant extract of clove so that its development orientes to cultivation of organic plants. In cultivation of vanilla plant with technology of Bio-FOB, it does not use anorganic fertilisers and synthetic pesticides. Several investigations show that technology of Bio-FOB can be used on other plants, especially Bio-TRIBA, Organo-TRIBA and Mitol 20 EC likes on cashew plants, black pepper, cocoa, coffee and other vegetables.

IMMUNIZATION AND THE REVOLUTION WAY TO PROTECT VANILLA CULTIVATION FROM FOOT ROT DISEASE


Vanilla (Vanilla planifolia Andrews) is one of spice plants, foreign exchange producer that is still enough to be potentially developed in Indonesia. One of major constraints in cultivation of vanilla is attack of foot rot disease (FRD) caused by fungi of Fusarium oxysporum f.sp. vanilae (Fov) that can attack all plant parts at the stage of plant growth (seedlings to producing plants). Transmission of this pathogen is especially through cuttings that are used as the source of plant materials. Vanilla cuttings used by farmers recently have risks to be infected by pathogen of FR 7-32%. This used cutting can as the source of inoculum for vanilla garden that is newly opened. Therefore, one of prevention methods of FR disease is using seedlings that are free from pathogen of FR (Fov).

To obtain seedlings those are free and immune to pathogen can be induced by certain microorganism. Fusarium oxysporum non pathogenic (FoNP) is one of microorganisms that has been reported to be able to induce plant resistance. Technology of immunization (induction of resistant) by using microorganism as inducer has been developed and used in the field in developed countries previously several years on various commercial plants such as tomato, potato, wheat, strawberry, etc.

In 1980iest, Komada a researcher of Japan, published his founding about the use of Fusarium oxysporum non pathogenic (FoNP) to induce the resistance of sweat potato plant to the disease of Fusarium rot. The result of the founding explained that the effectiveness of FoNP use is not significantly different by using Binomil that forms
mainstay fungicide for control that disease at that time. In Indonesia, the use of this microorganism has been developed on vanilla plant especially for the disease of foot rot for several years recently and has been applied to field stage, while the use on foot rot disease on black pepper plant is just early process in the stage of green house.

Results of Balittro experiment on vanilla plant, FoNP strain F10-M has been encountered that is isolated from healthy vanilla plant. Pre-inoculation of vanilla cuttings by using isolate conidia that could inhibit infection of FR pathogen on plant treated. Those organism have been produced in the form of formula, to make easy the implementation and has been patented in Directorate General of Intelectual Property Rights. Since 2001, this technology has been used widely in several provinces in Indonesia especially in Bali for control of FR disease. Distribution and application of this technology are conducted in the form of benefit with local private outsider that at this time has been in 12 provincies in Indonesia.

Immunization or induction of resistance or artificial resistance is a stimulation process of host plant resistance to plant pathogen without introduce new genes. Technology of immunization or cross protection forms one of control methods of plant disease by stimulating activity of resistance mechanism through inoculation of non-pathogenic microorganism or avirulent pathogen as weel as hypovirulent strain and treatment of substant form microorganism and botanical pesticide plants. Mechanism of resistance induction (immunization) causes condition of physiologis that regulated resistance system to be active of rtimulating mechanism of resistance that is possessed by plant. Immunization does not inhibit plant growth, even can increase production on several plants although without the existence of pathogen and gives a method to defense against environmental stress.

Preinoculation with inducer agents can activate various mechanism of plant resistance quickly, among others accumulation of phytoalexin, and the increase activity of several kinds of inducer enzyms such as β-1,4, glucosidase, chitinase and β-1-3-gluconase. Phytoalexin compound is substantion of antibiotic that is produced by host plant if there is infection of pathogen or wounding. Compound of phytoalexin apparently much more formed in the plant if using non-pathogenic microorganism compared with hypovirulent.

Signal of resistant inducer can in the form of its inducer agents or signal that is syhthesized by plant as a result of the existence of inducer agents. That signal is produced in a plant, however, can have a role on other parts. Signal transinduction can be transferred intracellulary so that causes system of plant resistance systemically. ( Dr. Mesak Tombe, Research Institute For Medicinal and Aromatic Crop Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor, Indonesia, Cell number )

For more information, please contact Mr. Dr. Mesak Tombe by email at meori_agro@yahoo.co.id

BIO-TRIBA MEMBANTU MENGOLAH LIMBAH MENJADI KOMPOS


Larutan Bio-Triba merupakan suatu formula yang mengandung dua jenis mikroorganisme, yaitu Bacillus panteketkus strain J2 dan Trichoderma lactae strain TB1. Kedua jenis mikroorganisme tersebut berfungsi sebagai aktivator dalam proses dekomposisi limbah pasar, rumah tangga, hewan dan pertanian menjadi pupuk orgnik yang bermutu. Di samping itu, kedua jenis mikroorganisme tersebut dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogenik pada tanaman yang bersifat tular tanah (soil-borne pathogen)
Kualitas kompos yang dihasilkan sangat tergantung pada jenis limbah (sampah) yang digunakan sebagai bahan dasar. Seringkali limbah mengandung bahan yang sulit diurai seperti lignin. Untuk itu perlu ditambah dengan mikroorganisme yang dapat mengurai lignin secara cepat. Kandungan karbon dan nitrogen (C/N) dari limbah yang paling baik adalah kurang dari 30:1.

Pengolahan limbah menjadi kompos dimulai dengan menyortir/memisahkan bagian yang tidak dapat lapuk seperti kaca, besi, kaleng dan plastik. Selanjutnya limbah dipotong-potong menggunakan mesin pencacah dan hasil cacahan disusun berlapis (25 -30 cm) di dalam wadah penampungan. Pada setiap lapis tumpukan limbah disiram secara merata dengan larutan Bio-TRIBA. Setiap ton limbah yang telah disortir memerlukan 2 liter laruta Bio-TRIBA. Wadah penampungan diputar selama 30 menit setiap 2 hari untuk meratakan penyebaraan mikroorganisme.

Selama proses penguraian akan terjadi peningkatan suhu dan suhu ini sebaiknya diukur setiap hari. Penguraian dianggap selesai apabila suhu telah turun lagi mencapai sekitar 350C atau memakan waktu 14 -21 hari. Bahan kemudian dikeluarkan dari wadah pengomposan dan ditumpuk dengan plastik untuk proses pematangan. Kompos yang telah matang ditandai dengan kondisi suhu yang berkisar antara 28-300C . Selanjutnya bahan dikering-anginkan dan dihaluskan (dapat menggunakan mesin pemotong). Bahan yang belum lapuk sempurna dipisahkan dengan diayak dan disaring. Hasil pengayakan berupa kompos Bio-TRIBA yang siap dipakai dan dipasarkan. Secara skematis, proses pembuatan kompos dengan bantuan larutan Bio-TRIBA.

Kompos yang dihasilkan melalui proses ini mempunyai nilai nisbah C/N berkisar 10-15, pH 6,5 – 8 atau bersifat alkalis sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kemasaman tanah. Pada kompos juga tidak ditemukan patogen penyebab penyakit pada tanaman. Kompos mengandung unsur hara K, S, Ca, Mg dan hara Mikro (Fe, Mn. Cu, Zn) serta nisbah C/N yang lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang yang biasa digunakan petani.

Potensi Penggunaan Kompos
Sebagai Pengendali Patogen atau Fungsida Nabati
Kompos yang berasal dari limbah pasar, pertanian dan hewan yang ternyata mengandung senyawa yang bersifat toksik terhadap patogen tanaman. Dengan demikian, kompos jenis tanaman ini dapat berperan sebagai fungisida nabati dan membuka peluang baru dalam mengembangkan agribisnis.

Hasil penelitian dengan menggunakan ekstrak kompos membuktikan bahwa bahan tanam tersebut dapat berfungsi sebagai fungsisida nabati. Ekstrak kompos diperoleh dengan mencampur 1 kg kompos dengan 16 liter air kemudian difermentasi secara 14 hari. Pengujian terhadap beberapa jamur patogenik (R. Lignosus, S. Roffsii, C. Gloeosporioides dan F. Oxyporum) mengindikasikan bahwa ekstrak kompos pada konsentrasi 5 -15 % dapat menghambat pertumbuhan jamur patogen.

Sebagai Substrak Agen Hayati
Di samping manfaat utama kompos sebagai sumber nutrisi, kompos juga berpedan dalam pengendalian penyakit tanaman jika kompos mengandung mikrooganisme yang berfungsi sebagai biogen seperti Trichoderma, F. oxysporus non patogenik (FoNP), dan Bacillus. Bakteri B. Subtilis yang ditambahkan pada bahan yang dikomposkan dapat mengendalikan penyakit akar gada pada kubis.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa Trichoderma, FoNP, dan Bacillus dapat tumbuh dan berkembang dalam kompos. Hal itu dibuktikan dengan adanya peningkatan populasi kedua mikrooganisme tersebut.

Pemanfaan Kompos Bio-TRIBA pada Tanaman
Kompos Bio-TRIBA dapat menggantikan peran pupuk kandang, dengan kesetaraan menurut jenis tanamannya, yaitu: a) tanaman jagung, 1 kg pupuk kandang setara dengan 0,5 kg kompos Bio-TRIBA, b) Tanaman bawang, cabai dan tomat, 1 kg pupuk kandang setara dengan 0,25 kg kompos Bio-TRIBA, c) Tanaman petsai/caisin, 10,8 kg pupuk kandang setara dengan 3,6 kg kompos Bio-TRIBA

Hasil percobaan menggunakan kompos Bio-TRIBA pada jagung yang ditanam pada tanah Podzolik dan Andosol mengindikasikan bahwa: a) Pada jenis tanah Podzolik, kompas Bio-TRIBA dapat mengurangi pupuk pabrik ¼ takaran anjuran untuk pertumbuhan tanaman (makanan ternak) dan ½ takaran anjuran untuk produksi, b) Pada jenis tanah Andosol, kompos Bio-TRIBA dapat menggantikan seluruh takaran pupuk anorganik, namun hasil jagung akan lebih tinggi bila ditambahkan pupuk anorganik ¼ takaran untuk pertumbuhan tanaman dan ¾ takaran anjuran untuk meningkatan hasil

BIBIT TEMBAKAU BIO-FOB HASILKAN KUALITAS PRIMA


Temanggung terkenal daerah tembakau nomor wahid di dunia, akan tetapi predikat tersebut semakin surut oleh ulah para petani sendiri. Dimana tembakau asli Temanggung yang punya aroma harum dan kadar nikotin tinggi tersebut banyak dipalsu seperti dicampur tembakau dari luar daerah, bibit tembakau diambil dari daerah luar dan diberi bahan kimia. Akibatnya, predikat tembakau yang semula meroket akhir-akhir ini menurun tajam.

H. Mad Nor merasa tergugah untuk mengembalikan tembakau Temanggung kondang kembali seperti dulu, dasarnya dari pemurniaan bibit tembakau yang dikemas secara modern, dengan sistem “Bio Fob”, sistem Bio Fob selain menjaga kualitas juga meningkatkan produksi tanaman dan menjamin kehidupan tanaman serta kesuburan tembakau.

Denplot Mat Nor + 0,5 ha tidak ada satupun yang mati, usia + 1 bulan sudah mencapai ketinggian 1 meter, padahal tembakau bibit non Bio-Fob baru mencapai 0,5 meter selain banyak yang layu , hasil produksi yang diperkirakan 4 kali lipat, karena lebar lebih tinggi batangnya. Kualitas tembakau dengan bibit Bio-Fob, akan menghasilkan kualitas tembakau yang berkualitas. Kendati ditanam di sawah dijami tidak kalah dengan tembakau dari pengunungan.

Keunggulan dari sistem Bio Fob, mempu menetralisir terhadap penularan bibit penyakit yang ada di dalam tanah, hingga kehidupan tanaman tembakau dapat terjamin. Kecuali serangan hama dari luar seperti, ulat, tentang Mad Nor. Penemuan Mad Nor membuat sistem Bio-Fob, tidak hanya tembakau, juga bibit cabe, vanili dan brokoli. Bukti riil kondisi tanaman dengan bibit sistem Bio-Fob bisa dilihat di berbagai demplot milik Mad Nor, satu kompleks ada tanaman tembakau, cabe dan vanili.

Bio Fob

Pembuatan bibit sistem Bio Fob mempunyai keunggulan dan manfaat bagi hayat hidup manusia, karena sistem ini membudidayakan tanaman ramah lingkungan. Kegunaan lain dapat mendekomposisi limbah organik atau limbah pertanian, limbah rumah tangga, hewan dan pasar. Hanya dalam waktu dua minggu dapat medekomposisi limbah pasar. Unsur mikroorganisme dapat menghambat beberapa pertumbuhan patogen tanaman, serta dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Unsur Baccillus dapat meningkatkan produksi sampai 105%

Teknologi Bio-Fob merupakan salah satu metode yang efektif untuk mencegah penularan dan penanggulangan penyakit tanaman. Dan teknologi tersebut sudah disosialisasikan secara luas dan dikembangkan dengan sistem waralaba yang melibatkan Dinas Perkebunan dan swasta. Keberhasilan metode Bio Fobsudah teruji di berbagai tanaman seperti pada: Jahe, Tomat, kacang-kacangan, Cabe dan Jagung.Hasilnya cukup baik dalam meningkatkan produksi dan kesehatan tanaman.